Retna Mohini, Perempuan Jawa di Jantung Paris

Ratna Mohini dan Henri Cartier-Bresson.
Ratna Mohini dan Henri Cartier-Bresson.

Retna Mohini lahir sebagai Carolina Jeanne de Souza-Ijke di Mester Cornelis, distrik orang-orang Portugis di pinggiran kota Batavia, pada 17 Mei 1904. Ia besar di Rembang dan sempat bersekolah Surabaya, mengikuti penugasan ayah tirinya, seorang pegawai pabean yang hidup makmur.

Ibunya seorang perempuan Jawa, dan karena itu ia merasa lebih Jawa daripada Indo-Eropa. Lingkungan ayahnya membuat ia tumbuh menjadi perempuan muda yang menguasai banyak bahasa, berjiwa bebas, mandiri, dan menaruh minat besar pada tari dan teater.

Orang-orang terdekat, dan kawan-kawannya memanggilnya  Eli, penyebutan sederhana dari Carolina. Retna Mohini adalah nama panggung pemberian gurunya, yang kelak ia pakai sebagai penari profesional di Paris, dan menenggelamkan nama aslinya.

Pada usia 26 tahun, di tahun 1930, Retna menikah dengan Willem L. Berretty, jurnalis, adik dari Dominique Beretty, salah seorang pendiri kantor berita Aneta di Batavia, yang dimodali oleh para pengusaha perkebunan Hindia Belanda. Willem pernah bekerja menjadi editor di Sukabumi Pos. Mereka bercerai di tahun 1935.

Menjadi perempuan bebas, tanpa anak, Retna memperdalam lagi kemampuan menarinya. Dia belajar pada Retnowati Latip, yang pernah dilatih oleh penari Rosalia Chladek. Melihat minat dan bakatnya, Retnowati mendorong Retna untuk melengkapi studi modern yang dia dengan tarian tradisional Jawa. Di Batavia, ia lalu belajar menari pada dua orang penari Kodrat dan Wiradat, saudara-saudara muda dari seorang filolog lulusan Leiden, Poerbatjaraka.

Dengan bekal kemampuan menari dari latihan kerasnya, Retna menjajal kehidupan di Paris. Ia membuka jalan ke Prancsis, dengan bekerja sebagai asisten pada seorang pengusaha bernama Keuzenkamp.

ratna
Retna Mohini

Pada tahun itu pula, 1936 ia mulai menapaki kehidupan kosmopolis seagai penari Jawa di jantung kebudayaan dunia, Paris. Ia bahkan dengan mudah menerima dan diterima sebagai Parisian sejati. Ia bertemu dengan fotografer Henri Cartier-Bresson dan mereka saling jatuh cinta. Setahun setelah pertemuan itu mereka menikah, meskipun pernikahan itu ditentang oleh keluarga Henri, keluarga kaya dan amat terpandang di Paris.

Mereka tinggal di lantai IV sebuah apartemen di 19 Rue Danielle Casanova, Paris. Apartemen itu lebih berfungsi sebagai studio bagi Henri. Hanya ada sebuah tempat tidur kecil, dapur, dan kamar mandi. Sebagian besar ruangan terpakai untuk memproses foto-foto Henri.

Antara tahun 1937 hingga 1939, Hendri bekerja sebagai fotografer untuk surat kabar komunis Prancis, Ce Soir. Bersama David Seymor, dan Robert Capa, dua fotografer legendaris lain, Henri dikenal sebagai tokoh kiri yang berpengaruh, meskipun mereka tak pernah secara resmi bergabung dengan partai komunis Prancis.

Retna yang setia mendampingi suaminya menjadi saksi gejolak tumbuh dan berkembangnya berbagai pemikiran kesenian di Paris. Ikut dalam obrolan-obrolan di Kafe Montparnasse. Henri dan Retna lalu pergi ke Spanyol. Di sana Henri membuat film dokumenter untuk kelompok Republik Spanyol.

Kembali dari Spanyol, Retna bertemu Ram Gopal, penari India termasyhur,1939, melalui seorang kenalannya di Museum Seni Oriental Guimet. Ini pertemuan yang menggembirakan Gopal. Pada tahun 1930an, Gopal pernah menjelajah tanah Jawa, mencari, belajar, berburu, khazanah gerakan tari Jawa. Tentu saja ia merasa sangat beruntung menemukan Retna – perempuan penari berdarah Jawa – di Paris, dan mengajaknya untuk tampil dalam tarian yang memang ia gubah untuk ditarikan berpasangan.

Kemitraan Retna Mohini dengan Ram Gopal terjalin mutualistis. Retna mengajarkan Gopal tari Jawa dan Bali dan mereka menari nomor Jawa dan Bali berbasis tradisi dengan iringan rekaman rekaman suara di beberapa acara Gopal. Pada gilirannya Retna juga mempelajari adaptasi Gopal untuk tarian-tarian Kathak, Bharatanatyam dan Kathakali.

Ketika Gopal pergi ke India pada 1939, Retna dan Henri mengikutinya. Retna dan Gopal pergi ke Bangalore untuk mempelajari teknik gerakan untuk tarian Kathakali di Kerala Kalamandalam langsung dari guru tari Ravunni Menon.

“Dengan kekenyalan dan kelenturan tubuh yang luar biasa, karena terlatih dengan tari Jawa di sekolah yang ketat dan keras, Retna menyadari bahwa ia dengan cepat bisa menguasai Lasya, gerakan feminin itu…,” ujar Gopal dalam biografinya.

Lasya adalah bagian penting dalam pementasan tari Kathakali. Retna dengan mudah menguasai gerakan-gerakan dalam Kathakali yang menuntut kelembutan, keanggunan, dan kehalusan perempuan dengan sempurna. Selain Menon, Retna juga belajar tari filosofi tarian itu pada penyair Vallathol. Yang unik, penyair yang tak bisa berbicara bahasa Inggris itu berkomunikasi dengan Retna dengan bahasa isyarat berdasarkan tari Mudra. Retna ikut dalam salah satu resital penting di New Delhi.

Sejak itulah nama Retna Mohini melekat padanya. Nama itu, yang berarti “penari yang lincah” menurut Gopal, cocok untuknya, sekaligus menggambarkan citra dari kelompok tari mereka.

Retna lalu benar-benar menjadi bintang.

Ia menari di mana-mana. Di panggung-panggung tari bergengsi. Ia menari di Salle Pleyel, juga di Archives de la Danse di Paris. Salah seorang penonton yang terpesona adalah Jean Cocteau. Penyair dan pengarang besar itu kagum pada bakat dan kemampuan Retna. Cocteau pernah menjura, berlutut di hadapan Ratna, setelah Ratna tampil menari tentu saja bersama Gopal, di Guimet Museum, Paris.

Ia juga menari di Teater Delphi di London, dan disambut meriah. Penampilannya diulas oleh kritikus tari ternama Beryl de Zoete, dalam sebuah artikel yang antusias.

Lalu pecah perang dunia ke-2.

Kehidupan normal terhenti. Retna dan Henri mengungsi ke rumah seorang pengusaha pertanian di dekat Chambord. Usai perang, mereka berkeliling dunia. Retna menemani suaminya memotret negeri-negeri Asia yang berjuang melepaskan diri dari penjajahan. Termasuk Hindia Belanda, tanah kelahiran Retna.

Menginjakkan kaki lagi di Batavia, itu artinya ia telah belasan tahun meninggalkan kota itu. Foto-foto yang dihasilkan Henri pada tahun 1949, tahun yang membawa Retna kembali ke tanah airnya yang kini bernama Indonesia itu memberi tahu kita kini, dan Retna pada waktu itu, bahwa Indonesia belum banyak berubah.

Sebuah foto diambil di jalanan ramai di Jakarta, di tahun itu, menjadi bukti bahwa – pasti karena kemiskinan – seorang pedagang perempuan dengan menggendong bakul, masih dianggap lazim dengan hanya melilitkan kain kasar pada pinggang dan menutupi kaki hingga sedikit di bawah lutut.

Tanpa penutup dada.

Jika di sebelah perempuan itu ada perempuan lain dengan pakaian yang jauh lebih baik, yang dengan berani menatap pada kamera, kita bisa melihat betapa nganga kesenjangan lebar sekali di republik muda itu.

Henri dan Retna mengunjungi banyak tempat di Indonesia. Henri memotret sawah di Sumatera Selatan, pasar tradisional di Bali, para penari di Jawa, bocah-bocah pengangon kerbau, dan gembala itik di Pati, masuk ke Istana Negara, juga memotret Sukarno di Yogyakarta.

Setelah Perang Dunia Kedua, Henri Cartier-Bresson telah ditangkap, dan melarikan diri, Ratna menemani suaminya pada tahun 1946 ke New York, Amerika Serikat. Di sana karya-karya Henri ditampilkan di sebuah pameran di Museum of Modern Art.

Foto-foto luar biasa dari Amerika itu dikumpulkan selama perjalanan mobil yang panjang pada tahun 1947 melalui negara-negara baguan bersama penulis John Malcolm, dan Retna menyertai perjalanan itu, dengan penampilan unik: ia mengenakan sari dan bindi di dahinya, kebiasaan yang ia bawa selama menari bersama Ram Gopal.

Pada tahun 1950 dan 1960-an, dunia Retna membentang luas, ia mengunjungi berbagai negara dan menjadi bagian dari berbagai jenis masyarakat. Dia mengenal dengan baik sejarah budaya Eropa dan karena itu menjadi pemandu pribadi bagi Rahmi Hatta dan Bung Hatta, wakil presiden pertama Indonesia.

Retna adalah teman dari Clara (istri novelis Perancis André Malraux) dan pelukis Indonesia Mochtar Apin, dan dengan mudah berteman sejumlah orang Indonesia yang menemukan jalan sulit mereka ke Eropa dan Paris.

Foto karya Henri Cartier-Bresson, yang menangkap momen pemindahan lukisan para gubernur Hindia Belanda dari Istana Merdeka.
Foto karya Henri Cartier-Bresson, yang menangkap momen pemindahan lukisan para gubernur Hindia Belanda dari Istana Merdeka.

Salah satu di antara sahabat Indonesianya adalah Sumitro Djojohadikusumo. Mereka pernah juga menjadi pasangan menari.Sumitro pernah bekerja sebagai pelayan di restoran di Paris untuk menutupi ongkos hidupnya selama belajar di sana. Kita tahu, Sumitro kelak menjadi seorang pemikir, ekonom terkemuka, dan profesor penting di Indonesia.

Retna Mohini meninggal pada tahun 1988. Henri Cartier-Bresson, yang menyusul kemudian pada tahun 2004, tahu betul bahwa ia berhutang banyak pada Retna. Keberhasilannya sebagai wartawan foto – terutama di Asia – tak akan ia raih jika Retna tidak ikut mendampinginya dan membuka pintu-pintu resmi birokrasi.

Retna memiliki kemampuan diplomasi budaya dan dengan wawasan lintas budaya dan waktu yang ada padanya, ia membawa suaminay memotret dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting di dunia sehingga menajdi fotorafer terpenting abad 20. Tahun 1967, Ratna dan Henri bercerai setelah menikah 30 tahun. Tapi sebagai penghormatan atas Retna, bersama istri keduanya yang ia nikahi pada tahun 1070, Martine Franck, Henri menerbitkan buku berisi puisi-puisi pilihan yang pernah ditulis oleh Retna.

Foto-foto karya Henri Cartier-Bresson tentang Indonesia pernah dipamerkan di Indonesia pada tahun 2002. Sejarawan Ong Hok Ham dalam pengangtar pada katalog pameran mengulas sebuah foto penting yang dipamerkan. Ada ebuah foto yang bicara banyak tentang proses dekolonialisasi di Indononesia. Proses itu dengan amat berhasil diwakili oleh foto pemindahan potret para gubernur Belanda, yang memerintah selama 300 tahun, sebelum Presiden Sukarno mengambil dan menempati kembali istana itu pada tanggal 27 Desember 1949. | Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s