Tuan Mesti Diinternir! Dan Kartu Pos 100 Kata

TUAN Vermijs membelalakkan mata pada Asmara Hadi, melanjutan ocehannya, “Indonesia Merdeka? Meskipun seribu tahun lamanya rakyat di sini bergerak, Indonesia tak akan merdeka! Kamu semuanya harus berterima kasih bahwa pemerintah di sini sangat sopan. Kalau saya yang berkuasa di sini maka segala orang yang menyebut dirinya pemimpin rakyat akan berayun di tiang gantungan!”

[Baca bagian pertama tulisan ini di tautan ini.]

              Keangkuhan yang memuakkan.

Asmara Hadi menahan diri. Tujuannya menghadap Tuan Vermijs adalah menyampaian permintaan kawan-kawannya yang ditahan supaya diberi waktu untuk menyelesaikan urusan keluarga. Situasi pembicaraan berkembang menjadi buruk.

Ia tak membalas kata-kata Tuan Vermijs.

Ah, Tuan Vermijs, saya kasihan mendengar kata-kata Tuan. Tuan lupa sejarah bangsa Tuan sendiri. Tuan lupa pada Willem van Orange yang oleh bangsa Tuan dipuja sebagai pahlawan nasional. Apakah kemerdekaan itu hanya untuk bangsa Tuan saja? Bangsa Eropa saja? Dan kami bangsa Asia tak berhak?

              Tuan menyebut nama Sukarno, Hatta, dan Thamrin. Buat kami orang Indonesia nama-nama itu adalah simbol semangat kami. Dari kehidupan mereka pengarang-pengarang di zaman nanti akan mendapat ilham untuk mengarang drama dan tragedi. Sampai akhir zaman bangsa Indonesia akan menghormati pahlawan-pahlawannya.

              Tuan katakan tadi bahwa Indonesia tidak akan merdeka? Benar, lama sudah Indonesia menjadi koloni, sudah lebih dari tiga ratus tahun. Tetapi meski tiga ratus ribu tahun pun tidak bisa menghilangkan hak atas kemerdekaan itu.

 Dalam zaman yang sangat dahsyat, /Membuat hati cabar dan sangsi / Jiwaku sudah dapat melihat / Sinar kemenangan kami nanti.

 Dalam suara topan yang bergegar / Gemuruh melalui dunia / Jiwaku sudah dapat mendengar / Sorak kemenangan di Indonesia.

              Tuan Vermijs, tidakkah Tuan dengar gegar suara angkatan udara? Deramnya meriam dan dentuman bom sekarang? Bagi kami bunyi yang dahsyat itu adalah seperti lagu yang datang dari Fujiyama melintasi gunung dan samudera, rimba raya dan tanah datar, laguan yang menunjukkan bahwa antero Asia tidak lama lagi akan merdeka!

              Hadi meninggalkan Tuan Vermijs dengan kecamuk berbagai pikiran di kepalanya. Permintaan agar ia dan kawan-kawannya yang ditahan diizinkan dulu membereskan hal-hal rumah tangga tidak dikabulkan.

Seminggu setelah menghadap, Tuan Vermijs kembali memanggil Asmara Hadi. Sekali lagi ia dipaksa supaya mengakui bahwa revolusi itu artinya pemberontakan, pertumpahan darah, dan sekali lagi dia tetap menentangnya.

“Kalau Tuan tidak mau ikut pendapat saya, saya tidak bisa membebaskan Tuan! Saya tahu siapa Tuan Hadi. Ketika bersekolah Tuan tinggal pada Sukarno, ketika dia diasingkan di Ende Tuan ikut pula kesana, lebih setahun Tuan tinggal di sana dan sekarang Tuan menjadi suami anaknya. Tentu keyakinan politik Tuan saam dengan mertua Tuan.

“Tuan mesti diinternir!”

“Bolehkan istri saya mengikut?”

“Buat sementara tidak boleh.Tapi barangkali nanti akan diadakan aturan lain.”

“Bolehkah saya bersua dulu dengan istri saya sebelum saya berangkat?”

“Itupun tidak boleh!”

“Kejam sekali”

“Saya mesti lakukan itu!”

*

              Para tahanan itu harus menghabiskan waktu 36 hari lamanya di sel-sel Seksi Ketiga, barulah dikeluarkan dan dibawa ke Stasiun Gambir. Di sana sudah menunggu Pandoe Kartawigoena dan Adam Malik. Kulit wajah mereka pucat karena sebulan lebih tak terpapar sinar matahari. Mereka disuruh masuk ke salah satu gerbong.

“Jangan ada yang mencoba lari! Karena sans pardon akan ditembak!”

Rasanya tak aka nada yang mencoba lari. Mereka masih mencintai hidup dan keluarga mereka. Jendela wagon dibiarkan terbuka. Seorang agen polisi berjaga di pintu. Dengan bedil.

Asmara Hadi memandang keluar jendela kereta.

“Tidakkah kau menyesal, Dam, menjadi orang pergerakan?” tanya Hadi pada Adam Malik.

“Menyesal, Di? Tidak ada yang saya sesalkan. Sayang saya hanya punya satu jiwa dan satu badan saja. Kau kan tahu kita ini hendak kemana?”

“Ke puncak kemenangan!”

Kereta kembali membawa mereka ke Sukabumi. Kembali ke interneringkamp yang sudah diisi oleh orang Tionghoa yang dituduh sebagai pengikut Wang Jingwei, nama yang dianggap sebagai pengkhianat abadi bagi bangsa Tiongkok, karena mendirikan negara Republik Tiongkok atas dukungan Jepang. Para pengikutnya menyebar ke seluruh dunia. Mereka ditangkap dari berbagai tempat di Indonesia. Ada yang dibawa ke sana bersama keluarganya, ada yang tercerai-berai, tak tahu lagi di mana anak dan istrinya berada.

Beberapa hari ditahan di Sukabumi, mereka dipindahkan lagi ke Garut.

Di tanjakan Nagrek, kereta merangkak lambat. Di Garut, telah berkumpul para tahanan lain, yang ditangkap dengan alasan yang sama, mereka para aktivis politik yang dianggap ingin mengobarkan revolusi melawan Belanda. Para tahanan yang baru datang dari Sukabumi disambut dengan sorakan. Kesedihan, akan terasa ringan jika dipikul beramai-ramai. Itulah mungkin arti dari sorak-sorai sambutan itu.

Dasaad tersenyum.

S.K. Trimoerti menyambut dari balik jendela rumah tahanan perempuan.

Asmara Hadi memandangi lagi sekeliling kamp interniran itu. Pagar kawat berduri. Tiga meter tingginya. Seorang serdadu Belanda dengan bedil berjaga di setiap sudut. Kamp itu menampung kira-kira 500 tahanan.

“Jangan mendekat pagar. Yang berani memegangnya akan ditembak!”

Dipenjara pada masa perang adalah siksaan. Hukum sesungguhnya tak ada. Siapa saja bisa diam-diam dihabisi. Tak ada pengadilan. Tak tahu sampai kapan mereka harus ditahan. Kesalahan yang dituduhkan pun tak jelas. Mereka, para interniran itu, adalah para aktivis politik yang dianggap membahayakan kekuasaan Belanda. Betapa hebatnya tuduhan itu!

Dua minggu sekali, para tahanan boleh mengirim kartupos kepada keluarga. Batasnya: 100 patah kata. Hadi selalu mengabarkan pada Ratna bahwa keadaannya di kamp interniran Garut tak perlu dicemaskan. Dengan kartupos-kartupos itu ia hendak menguatkan istrinya. Harapan yang tak terpenuhi adalah mendapat balasan dari Ratna. Ia tak tahu apakah kartupos yang dikirimkan Ratna ditahan oleh petugas kamp, atau memang Ratna tak pernah membalasnya.

Di dalam kamp interniran, di dalam kamar yang berpenerangan lampu listrik, Hadi menulis:

Teman-temanku, namamu barangkali tidak akan dituliskan orang dalam buku sejarah, patungmu tidak akan didirikan orang, murid-murid sekolah tidak akan menghafalkan namamu sebagi pahlawan, tetapi saya tahu, dalam interingskamp ini kau adalah pahlawan: memikul beban penderitaan dengan tiada mengeluh. Kalau yang berkobar-kobar dalam dadamu itu bukan kepahlawanan, saya tidak tahu lagi apa artinya kepahlawanan!

*

              Suatu pagi, Asmara Hadi, Adam Malik, Chadjin, Hakim, Imam, Moelia, Pandoe, Samsoeri, Selamat, Sipahoetar, Soekarni, Soeratin, Wadji, Wikana, mendapat perintah untuk bersiap. Mereka akan segera diberangkatkan!

Kemana? Tak ada yang tahu.

Kenapa? Juga tak ada penjelasan. Mungkin karena mereka dianggap bisa mempengaruhi para tahanan lain. Mereka berpamitan.

“Saudara sabar saja. Ingatlah bahwa Tuhan itu adil dan kuasa melindungi kita!” kata Kasmat kepada Hadi.

DI ENDE. Ibu amsi (kiri) duduk di sebelah Inggit Garnasih (kanan). Berdiri, dari kanan: Bung Karno, Asmarahadi, dan Ratna Djuami (Omi). /Foto dari Blog Roso Daras
DI ENDE. Ibu amsi (kiri) duduk di sebelah Inggit Garnasih (kanan). Berdiri, dari kanan: Bung Karno, Asmarahadi, dan Ratna Djuami (Omi). /Foto dari Blog Roso Daras

Stasiun Garut penuh. Orang-orang itu, rakyat jelata itu, ingin melihat para tahanan ‘penting’ yang hari itu akan dipindahkan lagi entah kemana. Kereta berangkat meninggalkan Garut, menelusuri rel yang di kiri-kanannya hanyalah hutan dan sesekali bentangan sawah. Menuju ke Bandung. Di Sukabumi mereka turun, diangkut dengan autobus, dan dititipkan lagi di kamp interniran di sana. Mereka ditempatkan di bagian khusus yang tak bercampur dengan tahanan Tionghoa dan orang-orang Formosa.

Di Sukabumi, meskipun dengan nasib yang sama tak jelas, mereka diperlakukan lebih ramah. Makanan lebih baik, dan yang benar-benar berbeda adalah untuk mereka disediakan koran. Dan ini penting. Sebab dari situ mereka tahu perkembangan Perang Pasifik.

Singapura dan Palembang telah jatuh ke tangan Jepang! Kalau Singapura sudah jatuh, maka kejatuhan Belanda mestinya hanya menunggu harinya tiba. Hadi mencemaskan nasib Sukarno dan Inggit yang masih dalam pembuangan di Bengkulu. Bukankah Palembang tak jauh dari sana?

Di Sukabumi itu juga akhirnya Asmara Hadi menerima surat yang pertama dari istrinya. Tiga minggu lamanya – istrinya mengirim ke alamat kamp internering di Garut – waktu yang harus ditempuh surat itu sebelum sampai ke tangannya. Ratna Djuami mengatakan dalam suratnya, ia ingin menyusul dan ikut kemanapun Asmara Hadi diasingkan. Permohonan Ratna untuk mengusul suaminya ditolak oleh P.I.D.. Ada sekali waktu, Ratna menyusul ke Sukabumi, membawa dodol dan buah, tetapi hanya buah tangan itulah yang sampai pada Hadi. Petugas penjara melarang ia menemui suaminya.

*

              I poured my heart into a song… Asmara Hadi sedang membersihkan garpu dan sendok, sambil menyanyikan Artie Shaw.. And when you hear it please remember from the start … di dalam penjara, lakukan apa saja untuk merintangi waktu… You won’t be hearing just the words and tune of a song … termasuk pekerjaan remeh, seperti membersihkan sendok dan garpu … You will be listening to my heart … “Hadi!” ….. I poured my heart into a song “Hadiiiii! ….. And I’m afraid the words I chose were not so smart “Hadiii, cepat keluar, ada tamu untukmu! … Tamu? Hadi berlari keluar.

Ratna berdiri di luar pagar barak.

Dia boleh memenui Hadi. Bahkan dia diizinkan menemani suaminya.

“Gemuk sekali kau, Di.”

“Bagaimana tidak gemuk. Makan banyak. Tidur banyak. Udara pun di sini enak…”

Yang pertama dikabarkan Ratna adalah kebaikan teman-teman mereka. Sejak Hadi ditangkap, beberapa orang dengan ikhlas memberi bantuan. Hadi segera menulis surat kepada mereka, yang kelak diketahui oleh Hadi tak pernah sampai kepada mereka. Selama Hadi tidak di rumah, pernah ada datang polisi P.I.D menyita buku-bukunya.

Ratna juga mengamabarkan kehamilannya.

*

              Dua Maret 1942.

Para tahanan hendak memulai hari dengan rutinitas mereka – sarapan, mandi, mencuci pakaian – ketika mereka diperintah bersiap untuk diberangkatkan. Sudah tiga hari tak ada koran untuk mereka. Tak ada yang tahu persis apa perkembangan perang. Simpangsiur kabar: Jepang sudah mendarat di beberapa tempat di Jawa! Jika itu terjadi, apa rencana Belanda untuk bertahan? Apa yang akan dilakukan oleh Belanda pada para tahanan? Mungkin saja mereka dihabisi. Perang akan memakan dana besar dan interniran seperti mereka hanya menjadi beban. Dugaan-dugaan terburuk itu menghantui pirikan para interniran.

Semua tahanan di Kamp Interniran Sukabumi diangkut dalam 22 bis. Itu pun masih tak cukup. Mereka berjejalan, berdesak-desakan. Dua hari satu malam, perjalanan yang menyiksa. Mereka tak diberi makan dan minum, kecuali sekadar bekal yang sempat mereka bawa saja. Bayi dan anak-anak menangis karena lapar.

Mereka dibawa ke Nusakambangan.

Sepuluh ribu orang ditahan di pulau kering dan gersang ini.

Kondisi rumah tahanan kotor dan amat buruk. Makanan dan minuman kurang. Mental dan moral manusia-manusia malang itu mudah sekali jatuh. “Ini bukan penjara. Ini neraka,” kata Hadi. Kelak, bertahun-tahun kemudian, ia masih bergidik, membayangkan siksa Nusakambangan.

Pada tanggal 4 dan 5 Maret, pesawat tempur Jepang menderu di atas Cilacap, juga di atas Pulau Nusakambangan. Bunyi bom, kepul asap hitam, dan gegaran dari ledakan bom itu menggempa hingga ke pulau neraka itu. Para tahanan terkesima. Menunggu. Apa yang sedang terjadi? Harapan tumbuh. Jepang telah menghancurkan Belanda? Cilacap adalah pertahanan terakhir Belanda. Di sana, kapal-kapal Belanda siap berlayar lari ke Australia atau Suriname. Tapi, satu per satu kapal itu ditenggelamkan bom-bom dari pesawat tempur Jepang! Salah satu kapal itu, Kapal Tawali namanya, sesungguhnya disiapkan untuk mengangkut para interniran. Kapal itu pun tenggelam juga…

Pada tanggal 9 Maret, seorang petugas tahanan Nusakambangan mengabarkan bahwa Belanda di Jawa sudah takluk kepada Jepang. Sehari kemudian, secara resmi direktut penjara mengabakarkan bahwa mereka dibebaskan!

Bebas!

Tapi mau kemana?

Cilacap sama sekali tidak aman!

Ya, baru kemudian pada tanggal 15 Maret mereka bisa meninggalkan Nusakambangan, neraka itu. Dalam kekacauan situasi perang itu, tak ada angkutan yang bisa membawa tahanan itu dari Cilacap. Hadi dan istrinya, dan beberapa kawan lain memilih segera meninggalkan Cilacap, ke Maos, meski dengan berjalan kaki. Perjalanan itu harus menyeberangi Kali Serayu dengan rakit, karena jembatan dihancurkan oleh Belanda. Untung saja, ada kendaraan militer Jepang yang bisa ditumpangi. Dari Maos, mereka lalu menuju Kesugihan. Di sana ada kereta apa tujuan Jakarta yang bisa ditumpangi, lewat Bandung.

Di Bandung, para interniran dari Nusakambangan bertemu dengan kawan-kawan mereka yang bebas dari kamp Garut. Tiga hari Hadi dan Ratna menumpang di rumah keluarga mereka di Bandung yang menyambut dengan tangisan syukur.

Semangat perjuangan meninggi lagi. Harapan-harapan baru bertumbuhan.

“Hidup!”

“Merdeka!’

“Banzai!”

Revolusi dan perjuangan pun sejak saat itu mulai ditulis dengan arti yang lain.| Hasan Aspahani

Catatan: Artikel ini ditulis ulang dengan sejumlah penyuntingan dari buku : “Dibelakang Kawat Berdoeri” oleh Asmara Hadi (H.R) (Pemandangan, 1942).

             

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s