Monolog Tan Malaka: Apa Gagasanmu Tentang Masa Depan Indonesia?

 I.

AKU Tan Malaka.

Aku orang bebas. Tapi sebebas-bebasnya aku – karena aku lahir dan hidup di negeri yang terjajah – maka aku adalah orang yang terbelenggu.

Ya, aku manusia biasa yang bebas, yang seperti dirimu, aku hanya hidup sekali. Tapi karena aku telah dibuang, diusir, diburu, dibunuh, dimatikan, dianggap hilang, berkali-kali, maka ada bagian dari perjalanan hidupku yang menjadi abadi. Tak mati-mati. Tak hilang-hilang. Aku telah memilih untuk hidup juga dengan pikiranku. Karena itu aku akan terus hidup dalam pikiran-pikiranmu.

Puluhan tahun aku hidup dari penjara ke penjara, dijauhkan, dan lari dari negeri yang kuimpikan dan kuperjuangkan kebebasannya, lalu aku menemui dunia luas, dan itu semakin menyadarkan aku bahwa kemerdekaan negeriku adalah sesuatu yang mutlak, harus diwujudkan tanpa perkecualian, tanpa batas, dan harus dicapai sesegera mungkin.

Di Canton, di masa-masa pembuanganku di tahun 1925, aku menerbitkan brosur Naar de Republiek Indonesia. Menuju Republik Indonesia. Ya, aku menulis konsep negara merdeka itu lima tahun sebelum Hatta menulis Indonesia Merdeka (1930), dan tujuh tahun kemudian barulah Sukarno menerbitkan Mencapai Indonesia Merdeka (1932).

Ya, aku sudah menuliskan buku kecil itu, 20 tahun sebelum negeri ini menyatakan kemerdekaannya, yang dengan pertimbangan keterbacaan, kutulis dalam bentuk brosur. Ringkas. Tak terlalu tebal.

Aku percaya, bahwa gagasan tentang bagaimana bentuk kemerdekaan itu harus menjadi penggugah semangat rakyat Indonesia, sebanyak-banyaknya. Harus jadi cita-cita rakyat Indonesia seluas-luasnya. Di risalah ringkas itu antara lain aku sebutkan bahwa di negeri Indonesia yang Merdeka harus diselenggarakan pendidikan gratis bagi setiap anak-anaknya hingga usia 17 tahun.

Dan kamu? Kami yang kini hidup di negeri Indonesia yang merdeka, apa gagasanmu tentang masa depan Indonesiamu?

II.

 Aku Tan Malaka.

Siapakah aku? Aku sesungguhnya adalah seorang guru. Ya, aku hanya guru.

Aku bersekolah di sekolah guru satu-satunya untuk murid-murid terbaik di Sumatera, yaitu Kweekschool, sekolah guru negara, di Fort de Kock, Bukit Tinggi. Sekolah dengan ujian masuk yang ketat dan kejam. Sekolah yang beberapa tahun kemudian ditutup karena pemberontakan Silungkang, tahun 1927.

Ketika lulus dari sekolah itu, tahun 1913, aku bisa menjadi guru di sekolah Belanda, mengajar anak-anak Belanda, dan bisa hidup nyaman dengan penghasilan yang pantas, dan tentu dengan status sosial yang tinggi. Ayahku H.M. Rasad Caniago, seorang pegawai biasa di jawatan pertanian, tapi ibuku, Rangkayo Sinah Simabur, lahir dari keluarga terpandang. Wajar bila keluarga besarku ketika itu langsung menawariku dua hal: perempuan untuk kuperisti, dan gelar yang melengkapi namaku: Ibrahim Gelar Sutan Malaka.

Siapa yang tak ingin beranak menantu orang seperti aku? Tapi ini bukan tawaran yang kuharapkan. Aku hendak menolak, tapi tak bisa menolak kedua-duanya. Ketika diminta untuk memilih salah satunya, aku memilih menyandang gelar itu saja: Sutan Malaka. Dari gelar itu, aku menetapkan namaku yang kalian kenal kemudian: Tan Malaka.

Ada yang mendorong aku untuk pergi dari kampung kelahiranku, Nagari Pandan Gadang, Suliki, Limapuluh Kota. Kesempatan itu datang ketika dengan dana yang dikumpulkan oleh para engku di kampungku, dan setelah lulus ujian masuk yang sangat ketat – aku tiga orang yang lulus dari 300 calon – aku berhak melanjutkan pendidikan guru di Rijkskweekschool, di Harleem, Belanda.

Oktober 1913, pada usia 16 tahun, aku lahir tahun 1897, hanya beberapa bulan setelah lulus dari Kweekschool, aku berangkat ke Belanda.

Ini perjalanan yang mengubah seluruh kisah hidupku.

Juga mengubah seluruh aku.

III.

Aku bukan pelajar yang bodoh.

Aku tahu pasti itu.

Tapi, di Belanda aku harus belajar dengan terpaksa. Aku harus melompat-lompat, mengulang, melengkapi, pelajaran dari tingkat-tingkat kelas yang berbeda. Paginya aku ikut pelajaran kelas satu, petang nanti pelajaran lain kelas empat. Ini bisa kuatasi. Tapi aku benci pelajaran menghafal. Aku juga benci membayangkan ketika mengajar kelak aku harus memaksa murid-muridku untuk menghafal, menghafal, dan menghafal saja. Metode itu aku yakini tak dapat lagi dipakai, dan hanya cocok untuk mata pelajaran yang sangat menarik.

Bagaimana aku bisa tertarik untuk menghafal bagian-bagian dari bunga tanaman yang tak ada di negeriku? Jumlah gigi katak yang tidak hidup di hutan tropis negeriku? Apa gunanya itu bagiku? Hanya untuk mengajari anak-anak Belanda yang kelak jadi murid-muridku?

Hidup di Belanda juga membuka mataku: betapa aku melihat perbandingan yang tidak adil antara keadaan rakyat Indonesia dengan orang Belanda.

Aku membenci ketidakadilan itu.

Di Belanda aku bertemu dengan Professor Snouck Hurgronje. Pertemuan yang makin membuat aku ragu untuk menjadi guru bagi anak-anak Belanda. “Aku tak akan pernah berpikir bahwa aku cukup tahu Bahasa Jerman, dan menjadi guru yang mengajar anak-anak Jerman.”

Aku bertanya kenapa, dia menjawab – semacam nasihat untukku – bahwa aku baru mulai belajar Bahasa Belanda pada usia 13 tahun, dan sebagai anak-anak aku tidak pernah menyelami jiwa dan alam pikir anak-anak Belanda yang kelak akan jadi muridku itu. Aku tak akan bisa bicara dalam kata-kata yang lazim dipakai oleh anak-anak seusia mereka. Aku setuju pendapatnya. Dia benar tentang itu.

Aku betul-betul ingin mengubah haluan hidupku setelah mendengar kata-kata professor orientalis yang menguasai bahasa dan budaya nusantara, dan Agama Islam itu. Tapi karena mengingat kebaikan guruku di Kweekschool, H.G. Horensma, aku bertahan. Dialah yang banyak mendorong semangatku, melihat potensiku, dan menyarankan aku menjadi guru, hingga mengupayakan aku bisa melanjutkan pendidikan guru di negerinya ini.

IV.

Aku katakan pada dasarnya keberhasilan Lenin dalam Revolusi 1917 adalah sama dengan Marx dalam ilmu ekonomi atau Charles Darwin dalam biologi.

Darwin mujur sekali dalam penelitiannya bisa menemukan tumbuhan dan hewan dengan cara berpikir berdasarkan logika dan dialektika berhasil menarik kesimpulan mengenai asal-usul, kemajuan, dan kemungkinan makhluk hidup.

Kupasan Marx yang bersandar atas dialektika materialistis atas semua faktor dalam ekonomi yang dikumpulkan para ahli dari masa Aristoteles sampai David Ricardo, berhasil menetapkan asal, keadaan, kemajuan, dan kemungkinan sistem kapitalisme di hari depan.

Demikian pula dengan Lenin. Dengan cara berpikir dialektika materialistis, dia analisa kodrat sosial di Rusia, ia berhasil mengenal sifat dan kodratnya semua golongan revolusioner dalam menumbangkan feodalisme dan kapitalisme.

Satu demi satu.

Bahkan serentak tumbang kedua-duanya itu.

Tetapi menelan saja semua kesimpulan yang diambil oleh pemikir Revolusi Rusia 1917 atau pemikiran Marx pada pertengahan abad-19 dan melaksanakannya dalam waktu dan tempat yang berlainan di Indonesia, tanpa mengupas, menguji, dan menimbang keadaan di Indonesia sendiri, berarti membebek, membeo, meniru-niru.

Marxisme, aku tegaskan, bagiku bukanlah kajian hafalan atau dogma belaka, melainkan satu petunjuk untuk aksi revolusioner! Semua bukti revolusi Indonesia dan kesimpulan yang menentukan strateginya harus dipertimbangkan satu per satu menurut nilainya masing-masing.

Bagiku, tidak ada teori yang sempurna. Semua ada kelemahannya. Tapi kelemahan itu bisa disempurnakan dengan praktik. Maka ahli revolusi bisa menyingkirkan atau mengurangi kesalahannya dalam memprediksi semangat revolusioner Murba. Mempelajari ilmu revolusi juga harus bergaul dengan rakyat Murba. Atau sedikitnya sanggup menyelami jiwanya yang sedang bergelora. Itulah praktik! Masuklah ke tengah rakyat. Selalu ada di antara mereka. Bahkan menjadi bagian dari mereka.

Ya, seorang ahli revolusi harus mengetahui sebaik-baiknya dan jika perlu disertai pengalaman mengenai kondisi masyarakat yang dipelajari, iklim di negerinya, sistem dan teknik pertanian yang lazim dipakai, peraturan ekonomi, sosial politik yang berlaku, sejarah bangsanya, kecerdasan masyarakatnya, perangainya, perasaannya, pandangan hidupnya, serta bagaimana anggota masyarakatnya mengorganisasi diri.

Tapi, seorang ahli revolusi dari suatu negara juga seperti ahli dalam ilmu apapun, harus mempunyai mata terbuka terhadap persoalan revolusi di negeri lain. ­ | Hasan Aspahani

Iklan

Satu pemikiran pada “Monolog Tan Malaka: Apa Gagasanmu Tentang Masa Depan Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s