“Indonesia Merdeka? Apa gunanya?” kata Tuan Vermijs

| Oleh Hasan Aspahani |

Lewat tengah malam, 9 Desember 1941.

Malam Jakarta yang hujan.

Asmara Hadi belum tidur. Ia sedang mengetik sebuah naskah untuk surat kabar “Pemandangan”. Ia kuatir, suara mesik ketiknya mengganggu Ratna Djuami, istrinya, yang tertidur nyenyak.

Tiba-tiba saja pintu rumah kecil itu digedor!

Sukarno Omi dan Asmara Hadi
Ratna Djoeami, Sukarno, dan Asmara Hadi.

Ia membuka pintu. Seseorang yang ia kenal sebagaiAbdurrachman dan beberapa polisi P.I.D. telah berdiri di sana. Asmara Hadi tak terlalu terkejut. Siang tadi, ia mendengar kabar bahwa sejumlah wartawan pejuang ditangkap P.I.D. Antara lain Wikana, juga para pengurus Kantor Berita Antara, kecuali Adam Malik, yang saat penangkapan terjadi sedang tak di tempat, dan tak ada yang tahu di mana ia berada. Adam Malik lolos.

“Apa maksud Tuan datang kemari malam-malam begini?”

“Mencari orang yang barangkali bersembunyi di rumah Tuan!” jawab Abdurrachman. “Boleh kami periksai rumah ini?”

“Tidak berkeberatan,” jawab Asmara Hadi.

Polisi P.I.D itu lalu memeriksa kolong tempat tidur – Ratna Djoeami terbangun -, dapur, kamar mandi, dan tak menemukan siapa-siapa, karena memang tak ada yang bersembunyi di rumah itu.

“Siapa yang Tuan cari?”

“Besok tentu Tuan akan tahu siapa yang kami cari.”

Asmara Hadi menebak, yang dicari pastilah Adam Malik. Dan dia cemas. Ini bukan penangkapan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, pada bulan Mei 1939, Belanda juga menangkapi para aktivis pejuang, juga mereka yang berjuang lewat tulisan. Asmara Hadi termasuk salah seorang yang ditangkap.

Siang tadi, kawan-kawannya di kantor pun mencemaskan itu.

“Sauadara-saudara tak usah kuatir. Saya tidak akan ditangkap…” kata Asmara Hadi kepada kawan-kawannya. Tapi kini, justru dia yang dihinggapi kecemasan.

Ratna Djoeami sejak tadi telah terbangun. Duduk di tepian ranjang. Tapi sedikit pun ia tak tampak cemas atau takut. Ia telah jadi kuat dan terbiasa, ditempa selama masa-masa pembuangan bersama ayah dan ibu angkatnya Sukarno dan Inggit di Ende dan Bengkulu. Meskipun demikian, Asmara Hadi mendekatinya dan memeluk. Mungkin untuk memenangkan dirinya sendiri. Juga sebagai permintaan maaf.

*

              Lewat pukul satu, 10 Desember 1941, manteri polisi Djoemadjidin datang ke kantor “Pemandangan” untuk menangkap Asmara Hadi. Apa yang ia cemaskan sejak tadi malam terjadi juga. Ia berusaha tegar ketika berpamitan dengan kawan-kawan sekantor. Ia dinaikkan ke mobil polisi dan diberi kesempatan untuk singgah ke rumahnya.

Ratna Djoeami baru saja pulang dari sekolah.

“Saya akan diperiksa. Mungkin akan ditahan beberapa hari,” kata Hadi kepada istrinya. “Pergilah kepada Mr. Soemanang dan Mr. Sartono, kabarkan bahwa saya ditangkap, mintalah pada mereka agar berusaha supaya saya dilepaskan.”

Hadi juga meminta Ratna mengirim telegram ke Bengkulu, telegram untuk Bu Inggit dan Sukarno. Ratna dengan tenang menyiapkan apa yang kira-kira diperlukan oleh suaminya dalam tahanan. Sabun, sikat gigi, dan beberapa pakaian.

“Kamu jangan bersusah hati benar. Tuhan senantiasa melindungi kita,” kata Hadi.

Hadi lalu mencium dahi istrinya.

“Mas, saya sepertinya mulai hamil…,” kata Ratna, lalu seperti menyesal mengucapkan itu. Ia takut kabar itu menambah beban di dalam hati dan pikiran suaminya.

Hadi masih sempat melihat istrinya, ketika mobil mulai bergerak. Kapan aku akan kembali kepada istriku? Apakah aku sempat mendampinginya melahirkan? Apakah aku bisa mengazankan anak kami yang nanti lahir?

Hadi mengira ia akan dibawa ke kantor pusat P.I.D.. Ternyata mobil membawanya ke sebuah gedung di depan Stasiun Gambir, sebuah tempat yang ia tahu sebelumnya dipakai sebagai gudang. Ia digeledah. Kertas dan alat tulis disita. Uang? Tak boleh lebih dari 10 rupiah. Setelah memastikan tak ada barang terlarang dan barang berbahaya lainnya pada orang yang baru ditahan itu petugas membawa dia masuk.

“Jangan coba lari, kalau kepala Tuan tidak mau dihujani pelor!”

Di dalam ruangan telah ada Tuan Rais dan Dasaad M Husin, para pedagang yang namanya cukup terkenal di kalangan aktivis pejuang, juga dr. Latip. Hari itu, semakin petang, semakin banyak tahahan. Hampir tiap jam ada orang tangkapan baru. Belanda sedang melakukan penangkapan massal lagi.

Dan tak lama kemudian muncul juga Adam Malik!

Aneh, matanya tetap gembira dan tampak bersinar. Sama sekali tak tampak ketakutan.

“Hei, dari mana saja kau?” tanya Hadi.

“Dari rumahlah,” jawab Adam Malik, sambil tertawa.

“P.I.D mencarimu ke rumahku, tengah malam kemarin.”

“Bodoh sekali pegawai P.I.D. itu. Mencari saya ke rumah orang lain bukan ke tempat tinggal saya,” kata Adam Malik, dengan senyum masih tersisa. “Ketika saya tahu mereka mencari saya, saya langsung datang ke kantor pusat mereka, dari sana terus dibawa ke sini. Saya menyerahkan diri supaya orang-orang yang kenal dengan saya tak mereka datangi.”

Pertemuan yang mengharukan. Tuan Rais, di luar sangkaan para tahanan itu, menasihati mereka dengan filsafat dan pandangan hidup yang amat menyentuh perasaan. Menenangkan. Saudagar besar yang biasa menghitung uang hasil dagang itu ternyata seorang yang mendalami filsafat juga ternyata.

Kepada Adam Malik, Tuan Rais berkata, “Siapa tahu, justru karena percobaan ini tuan nanti akan menjadi orang besar.

“Kantor Kabar Antara yang kini kecil akan menjadi kantor kabar yang bercabang di segala tempat di seluruh dunia dan kalau tuan melancong ke luar negeri lain setiap jongos di hotel tempat tuan menginap akan berbisik kepada temannya: Lihat, itu Tuan Adam Malik, direktur Antara.”

Kepada dr. Latip, Tuan Rais memberi nasihat, “Kalau Tuan tetap giat berusaha dan umur Tuan dipanjangkan oleh Tuhan, Tuan akan meninggalkan nama yang seharum Pasteur.”

Asmara Hadi membayangkan Hatta, Sjahrir, Sukarno, dr. Tjipto, Mr. Iwa Kusuma, yang masih dalam pembuangan. Juga para aktivis pejuang yang dibuang ke Digul… Dan kami ini, hendak dibuang kemana?

Ia menanyakan itu kepada inspektur jaga.

“Saya tidak tahu. Kami hanya diperintahkan menjaga Tuan-Tuan supaya jangan lari!”

Malam hari itu, sesudah makan malam, datang seorang pegawai P.I.D. untuk menjemput Adam Malik. Tidak ada yang tahu kemana dia dibawa. Diperbolehkan pulang? Atau ditahan di tempat lain? Dan malam itu meraung suara sirine, nyaring sekali. Itu sirine pertama yang pernah terdengar, seakan dibunyikan serentak di seluruh Jakarta.

Menggentarkan nyali.

Hadi teringat istrinya.

Tuhan, lindungi dia…

              Malam itu para tahanan P.I.D. itu tidur di atas meja kayu yang keras. Tanpa alas. Tak ada bantal, tak ada tikar. Hadi telah terbiasa dengan kehidupan keras seperti itu. Ia lihat Tuan-Tuan pedagang besar dan dokter, dan mereka yang terbiasa hidup nyaman pasti tersiksa sekali. Bangun dengan punggung, pinggang, dan dengkul yang sakit.

Kesempatan untuk mandi pun tak ada.

Tengah hari, pada tahanan itu dibariskan keluar gedung, menuju kereta. Jangan berpikir untuk lari. Di kiri kanan barisan, agen-agen polisi siap memuntahkan peluru.

Kereta hampir berangkat ketika Mr. Soemanang datang dan dijebloskan juga ke dalam gerbong yang memuat para tahanan. Nyali Hadi ciut. Ia berharap salah satu orang yang bisa melepaskan dia adalah Mr. Soemanang. Dia pun ditahan juga rupanya.

Harapannya tinggal pada Mr. Sartono.

“Istrimu sudah menemui aku,” kata Soemanang kepada Hadi. “Dia perempuan kuat. Sedikitpun tak tampak perasaan lemah padanya. Aku ada beri sedikit uang, dan kupesankan padanya, kalau perlu pertolongan nanti datang saja ke Pemandangan. Kau jangan terlalu mengkuatirkan dia.”

Dan kereta bergerak.

Ke Sukabumi.

Mereka ditahan di sekolah pertanian yang dijadikan interneringkamp. Tak ada tahanan lain. Padahal Hadi tahu ada banyak orang yang ditangkap dan ditahan sebelum mereka. Di mana mereka ditahan jika bukan di Sukabumi ini? Apakah ini hanya tempat penahanan antara sebelum dibawa ke tempat lain lagi?

Bermalam semalam. Sarapan pagi dengan makanan yang lumayan enak, mereka lalu diangkut dengan truk terbuka. Bisik-bisik yang terdengar di antara petugas mereka akan dibawa ke interneringkamp Garut.

Hari yang tadi cerah berubah menjadi mendung, lalu hujan lebat sekali. Para tahanan itu sampai di Garut petang hari dengan basah kuyup. Mereka disambut serdadu-serdadu Belanda yang sangar dengan bedil terhunus.

“Besok kamu orang semua bangun pagi-pagi!”

Apakah perintah itu berarti mereka akan dibawa ke interneringkamp lain lagi? Atau mereka akan dibebaskan karena salah tangkap? Atau mereka akan diperiksa dahulu? Tak ada yang berani bertanya.

Mereka sekali lagi digeledah.

Lalu masing-masing menerima selimut dan tikar.

Interneringkamp Garut terdiri atas beberapa blok. Di sana ditahan berbagai macam manusia: orang Indonesia, Tionghoa, Formosa, Korea, beberapa orang Jepang, dan ada juga orang India.

Kamp itu dikelilingi kawat berduri.

Ada sekitar 500 orang ditahan di sana. Ada juga anak-anak yang masih disusui oleh ibunya. Begitu takutnyakah Belanda pada anak-anak sehingga mereka pun harus ditahan juga?

Hadi lekas tertidur, karena lelah. Amat lelah. Ia hanya sempat berdoa dalam hati: Tuhan, jika nanti hanya namaku yang pulang, semoga anak yang lahir dari rahim istriku, lahir seorang pahlawan yang membalas dendamku, dendam bangsa ini

*

Udara dingin Garut yang dilindungi Gunung Galunggung, Cikurai, dan Papandayan, harus mereka lawan subuh itu. Fajar belum lagi terbit. Gunung-gunung tadi hanya tampak sebagai siluet. Hadi, melihat para tahanan lain, Dasaad, Hakim, Imam, Moelia, Samsoeri, Sipahoetar, Soekarni, Mr. Soemanang, Wasdji, juga sudah bangun. Mereka siap diberangkatkan.

“Hadi, kalau kau dibebaskan, nanti tolong temui keluargaku. Kabarkan kami aku sehat dan selamat,” ujar beberapa orang kawan dan Hadi tak tahu kenapa mereka berpikir bahwa dia hari itu akan dibebaskan. Ia juga tak tahu apa bagaimana nasibnya selanjutnya, sebagai mana juga tak tahu kenapa dia ditangkap.

Nyatanya, Hadi tidak dibebaskan. Ia bersama para tahanan lain dibawa dengan mobil berdinding kawat berduri. Ini sejenis mobil truk untuk mengangkut ternak atau sayur. Kawat berduri itu menegaskan suasana seperti apa yang sedang mereka hadapi. Taka da bangku di bak truk itu. Para tahanan yang kelelahan berdiri akhirnya duduk di lantai.

Mobil melaju kencang. Menggoncang keras para tahanan. Ada satu tikungan, ketika mobil sudah dekat ke kota Bandung, karena truk itu tak juga mengurangi kecepatan, nyaris saja truk itu celaka, nyaris saja terbalik. Para tahanan itu mengira jangan-jangan memang kecelakaan itu memang disengaja. Mungkin dengan cara itu nyawa mereka ingin dihabisi.

Selebihnya adalah perjalanan yang membuat para serdadu yang mengawal mereka heran. Kenapa para tahanan itu masih bisa tertawa-tawa? Dasaad adalah pencerita yang jenaka. Ia membuat para tahanan itu terbahak-bahak. Kenapa pula harus memasang muka sedih? Toh ini bukan untuk pertama kalinya mereka ditahan. Kesedihan tak akan menolong mereka.

Hei? Bukankah ini Jakarta?

Ya, mereka rupanya dibawa kembali ke Jakarta!

Waktu sudah melewati tengah hari.

Truk pengangkut tahanan tadi kini berhenti di halaman kantor pusat P.I.D. Satu jam lamanya mereka dibiarkan di truk itu. Kecamuk pikiran dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak pasti jawabnya. Ini jauh lebih menggelisahkan daripada saat truk nyaris terguling di tikungan tajam tadi. Apa yang sedang direncanakan Belanda pada mereka? Di penjara mana lagi mereka akan ditahan malam ini?

Salah seorang Kepala P.I.D. datang pada mereka dan satu per satu nama mereka dipanggil. Kecuali Mr. Soemanang. Mereka yang dipanggil dibawa ke Seksi Ketiga – komplek penjara terkenal pada masa itu – dan langsung dijebloskan ke dalam sel-sel di sana.

Ditahan lagi. Perkara yang disangkakan kepada mereka akan diperiksa lagi. Adam Malik dan Wikana juga ditahan disana, di sel lain, di seksi ketiga, di kantor pusat P.I.D. itu.

Pemeriksaan datang setelah seminggu mereka ditahan. Perlakuan amat buruk. Tangan mereka dibelenggu borgol, dan tak sempat memantaskan pakaian. Persis seperti copet yang ditangkap ketika beraksi di Pasar Senen. Kecuali Hadi dan Dasaad, mereka diperlakukan lebih baik. Hadi tahu, di dalam hatinya Dasaad menyimpan perasaan yang sama. Mereka ingin mengajukan protes keras. Mereka sama-sama orang pergerakan. Memang tak ada rupiah di kantong mereka, tapi mereka tak akan merendahkan diri dengan mencopet, dan tak akan lari sebagai pengecut. Tak perlu mereka diborgol seperti itu! Hakim, Pandoe, Sipahoetar, dan Wikana adalah para jurnalis, dan telah disepakati jika jurnalis ditangkap karena aktivitas menulisnya mereka tak perlu diborgol!

Giliran Hadi dijemput petugas.

“Apakah saya boleh berpakaian lebih dahulu?”

“Silakan, Tuan. Tentu saja boleh.”

Hadi agak heran dengan keramahan petugas P.I.D. itu.

Hadi mengulurkan tangan untuk diborgol.

“Kami tidak akan membelenggu Tuan.”

“Kenapa tidak? Apa bedanya saya dengan teman-teman yang lain?’

“Itu perintah dari atasan,” dan para pegawai itu tertawa. Sangat menyebalkan.

Apa yang ditanyakan kepada Hadi adalah hal-hal yang ia yakin sudah diketahui P.I.D. Ia tahu betul karena ia sudah pernah diperiksa dan ditanyai hal itu. Pasti arsipnya masih tersimpan.

Nama.

Tanggal lahir.

Tempat lahir.

Partai yang dimasuki.

Tujuan partai tersebut.

Yang memeriksa, petugas itu, Hadi mengingat betul nama: Yusuf. Pribumi berkulit coklat seperti dirinya. Ia berusaha untuk ramah.

“Maaf, baru bisa memeriksa Tuan Hadi sekarang. Pekerjaan P.I.D. banyak sekali sekarang. Siang malam kami harus memeriksa banyak orang.”

“Saya mengerti. Karena itu saya tidak marah,” katanya, lalu ia hirup kopi susu yang disuguhkan, bagian dari keramanah P.I.D. yang tidak ia mengerti.

Pemeriksaan usai.

“Silakan Tuan Hadi menghadap Tuan Jassin,” kata petugas bernama Yusuf tadi.

Jassin adalah seorang Wedana di Jakarta. Kepadanya Hadi bertanya kenapa mereka ditangkap. Jassin bilang dia tak tahu kenapa. Ini hanya perintah, katanya.

“Saya harap Tuan mengerti bahwa kami ini hanyalah perkakas, kami hanya pegawai yang menurut perintah.”

Hadi tersenyum pada jawaban itu.

Tak semua mereka yang bekerja di P.I.D. itu jahat, rupanya. Mungkin juga mereka tak tahu apa-apa tentang tugas yang diperintahkan pada mereka. Hadi justru kasihan pada para orang-orang pribumi yang bekerja di P.I.D. itu. Kelak bagaimana mereka berkaca, melihat wajah masa lalu mereka di hadapan cermin sejarah, ketika bangsa Indonesia merdeka? Hadi mengasihani mereka, dan makin meyakini jalan perjuangan yang ia pilih.

Hadi kembali ke tahanan.

Aturan di tahanan: para tahanan boleh menerima kiriman makanan dari rumah, tapi tak boleh dijenguk. Ratna berusaha untuk selalu datang mengantarkan sendiri buah, kue, bubur kacang hijau. Dari jauh saja mereka berpandangan, Ratna dari kamar jaga, Hadi di balik terali besi. Hadi melihat kandungan istrinya yang mulai tampak membesar.

Yang memberatkan Hadi di dalam tahanan adalah tak banyak yang bisa ia lakukan untuk perjuangan. Jika telah sedemikian berat beban pikiran menggayutinya, ia membaringkan diri, masuk ke dalam sel. Berupaya melepaskan pikiran-pikiran yang menekan jiwanya. Tapi mana bisa ia bisa tak memikirkan mereka di luar sana yang hidupnya bergantung padanya: istrinya, dan kelanjutan perjuangan bangsanya…

Asmara Hadi adalah seorang penyair. Kawan-kawannya sering membaca sajak-sajaknya di lembaran budaya di suratkabar-suratkabar di Jakarta. Ia mencintai kesunyian. Di dalam sel, ia lebih banyak berdiam, merenung, berbaring sendiri di dalam selnya. Ini mencemaskan kawan-kawan sesama tahanan. Mereka kerap datang ke sel Hadi, mengajaknya berbicara, sampai sengaja memancing debat. Hadi tahu, mereka tak ingin dia tenggelam dalam kesedihan. Diam-diam Hadi berterima kasih untuk perhatian teman-temannya itu. Tapi, sesungguhnya dia tak perlu dikasihani dengan cara seperti itu. Ia punya cara untuk menikmati kesenyuian rumah tahanan, kungkungan di balik sel berpagar kawat berduri.

Soal kesunyian itu satu hal. Soal makan adalah hal lain. Bahkan bagi tahanan yang ketika bebas amat miskin pun makanan penjara itu tak pernah mengeyangkan. Dan tak enak. Tapi hanya itu yang disuguhkan untuk mereka makan. Lauk berupa sepotong tempe atau ikan kering diberikan tiga kali sekali. Di dalam penjara, mewah sekali rasanya ikan bengkok itu, ini istilah Dasaad. Dasaad adalah direktur perusahaan dagagn Kancil Mas. Gajinya seribu lima ratus rupiah sebulan. Ia terbiasa hidup dan makan cukup. Yang tak mau sarapan dengan menu itu diberi pilihan: kopi dan pisang goreng sepotong.

Siapa pemborong untuk penyedia makanan bagi orang-orang tahanan ini? Siapappun pasti tak bisa berbuat banyak. Konon, anggaran konsumsi untuk mereka hanya delapan belas sen satu hari! Enam sen sekali makan!

Berbeda dengan tahanan bangsa Eropa. Menu yang disajikan jika dibandingkan seperti langit dan bumi. Mereka diberi kopi susu, roti bermentega, dan tengah hari dan sore diberi nasi dengan lauk daging.

“Enam sen, kita hanya dapat makanan seperti ini? Saya bersumpah, kalau saya bebas, akan saya naikkan gaji pekerja-pekerja saya,” kata Dasaad.

Juru masak penjara adalah seorang tua. Suatu kali, para tahanan pribumi itu meminta padanya untuk memasak makanan yang lebih baik untuk mereka. Bahan-bahannya mereka yang beli dengan uang mereka sendiri.

“Maaf, saya tak boleh mengubah aturan yang sudah ditentukan,” kata juru masak tua penjara itu. “Bersyukurlah, di kampung dulu kan Tuan-Tuan juga makan seperti ini, bahkan mungkin lebih buruk.”

“Percayalah, kami tidak membiarkan Tuan-Tuan mati di dalam sel ini.”’

Para tahanan itu tertawa!

“Senyaman-nyamannya di dalam sel ini, dan seburuk-buruknya kehidupan di kampung, tentu lebih baik di rumah sendiri di kampung!”

“Ya. Tuan-Tuan sabarlah.”

Atas sepengetahuan juru masak itu juga agaknya, jika malam tiba, ada saja petugas dapur yang menawarkan apakah para tahanan itu ingin minum kopi. Tentu saja mereka mau, dan dengan kopi itu, malam-malam di dalam penjara menjadi ramai oleh perbincangan.

Sesekali, petugas P.I.D. datang bertanya dengan angkuh dan kasar – mereka di antaranya orang-orang pribumi juga – tentang di mana senjata, peluru, mitralyur mereka sembunyikan.

“Kalian sedang menyiapkan diri untuk membantu dan menyambut kedatangan Nippon, kan? Hayo, kasih tahu dimana kalian sembunyikan senjata-senjata itu!”

Semua tahanan terdiam. Tak tahu harus menjawab apa, karena mereka benar-benar tak tahu apa yang dituduhkan itu. Petugas P.I.D. itu makin kasar saja teriakannya.

“Hei, kalian orang pribumi, kulit sama coklat dengan kami. Jangan perlakukan kami dengan kasar begitu. Kalau kami tahu apa yang kalian tanya pasti kami jawab. Kalau kami diam, itu artinya kami benar-benar tidak tahu!” kata Sipahoetar, tak tahan juga dia berdiam diri.

Polisi P.I.D, pribumi itu tampak marah sekali pada Sipahoeter. Ia diseret ke dalam kakus dan di sana ia dihajar. Dari luar, kawan-kawannya ikut merasa sakit mendengar jeritan-jeritan kesakitan Sipahoetar, membayangkan tubuh kurus dan kecilnya dipopor pangkal senapan!

*

Apa yang diharapkan para tahanan itu adalah panggilan dari P.I.D. yang berarti kabar kepastikan nasib mereka. Apapun itu, mungkin status tahanan yang pasti dengan tuduhan yang jelas, atau dibebaskan.

Yang pertama dibawa dari sel ketiga itu adalah Dasaad.

Bebas? “Mungkin saya diinternir lagi,” kata Dasaad, sebelum dibawa.

Pandoe Kartawigoena, tak lama berkumpul di situ. Seminggu saja. Ia lalu dibawa ke sel tahanan kantor pusat P.I.D.

Mr. Kasmat, Moezakkir, dan Faridz, menyusul masuk sel. Mereka dibawa dari Soemowono. Ia menganarkan bahwa S.K. Trimoerti, penulis perempuan kritis itu juga telah ditangkap di Semarang, dan ditahan di interneringkamp Soemowono.

“Sayoeti minta ia juga ditahan bersama istrinya itu. Mereka punya satu anak yang masih kecil. Lagi pula istinya itu juga sedang hamil.” Hadi teringat pada Ratna, istrinya.

Mr. Kasmat, Moezakkir, dan Faridz ditahan karena mereka baru saja mengikuti Kongres Islam di Tokyo. Apakah para pemimpin lain di kota-kota lain juga ditahan? Apakah Belanda benar-benar ingin membungkan dan menghancurkan pergerakan nasional dengan menahan para pemimpin di seluruh tanah air?

Ketiga tahanan baru itu lekas diperiksa. Dan vonisnya pun jatuh: internir! Entah dibuagn ke Digul, atau tempat pembuangan lain. Apapun, toh mereka sudah mengetahui kejelasan nasib mereka.

“Lalu bagaimana nasib kami?” pikir Hadi. Pertanyaan yang sama juga berkecamuk di kepala para tahanan lainnya.

Pada tahun-tahun itu Perang Pasifik telah berkecamuk. Belanda panik. Terlambat bagi mereka untuk merangkul pejuang pribumi untuk mendukung mereka. Usulan untuk melatih dan mempersenjatai orang-orang pribumi mereka tolak. Dan sekarang, mereka pun ketakutan bahwa para pejuang itu telah menjalin kerja sama dengan pihak Jepang yang sudah bekerja di bawah tanah. Orang-orang Jepang yang dicurigai itu juga ditangkapi.

Para tahanan itu merundingkan apa yang harus mereka lakukan. Bisakah mereka mendesak agar segera divonis? Atau sebaiknya mereka menunggu saja?

“Tidak ada gunanya menghadap penguasa penjajah itu. Kita jangan seperti menyembah-nyembah mereka memohon kepastian nasib. Kita harus tunjukkan kita punya keberanian untuk menanggung penderitaan apapun yang mereka timpakan pada kita. Ini bukan dan belum apa-apa.”

“Ingat pendidikan Hatta. Karakter. Sekali lagi karakter!”

“Kita menghadap bukan untuk menyembah. Tapi, menuntut dengan berani kejelasan nasib kita. Kalau kita akan ditahan terus, beri kita kesempatan untuk membereskan urusan rumah tangga kita.”

“Itu bukan menyembah. Kita berhak untuk menanyakan itu.”

Perundingan itu berujung pada satu keputusan: Asmara Hadi diutus untuk menghadap penguasa kolonial.

Ia diterima oleh Tuan Vermijs.

Tuan Vermijs menolak. Ia justru menyeret Hadi pada perdebatan tentang apa arti revolusi. Revolusi?

“Ya, revolusi yang Tuan-Tuan perjuangkan itu!”

Hadi mengingat-ingat, tak pernah ia menulis, atau bicara dalam pidato di rapat umum soal itu. Tapi karena kini ia dihadapan seorang Belanda dan dia ditanya, Hadi menyampaikan pendapatnya.

“Revolusi itu perubahan dengan cepat.”

Tuan Vermijs menggebrak meja. “Bukan itu, Tuan Hadi. Revolusi itu pemberontakan! Pertumpahan darah! Itu kan yang Tuan-Tuan maksudkan dengan revolusi?”

Hadi dengan keras membantah. “Saya hargai pendapat Tuan Vermijs. Kalau tuan mengartikan itu demikan, baiklah, setialah pada keyakinan Tuan itu. Tapi bagi saya revolusi artinya perubahan yang cepat!”

Dari soal revolusi, Hadi kemudian ditanya tentang Indonesia Merdeka.

“Semua partai di sini menghendaki Indonesia Merdeka. Meskipun itu perkataan tidak diucapkan atau dituliskan. Indoensia Raya. Indonesia Berparlemen. Semua perkataan itu kamuflase belaka untuk menutupi maksud yang sebenarnya. GAPI bertujuan Indonesia berparlemen, tapi lihatlah angota-anggota Dewan Rakyat bangsa Indonesia. Terang-terangan mereka menuntut Indonesia Merdeka.

“Dan Indonesia Merdeka itu, Tuan Hadi, adalah tujuan yang dilarang pemerintah!”

Hadi membalas dengan tak kalah tegas. “Tuan, sejak saya dengan penuh kesadaran menginjak lapangan politik, tidak pernah saya mengucapkan atau menuliskan perkataan Indonesia Merdeka. Kalau perkataan itu dilarang, mengapa Tuan tidak menyuruh tangkap orang yang mengucapkannya? Mengapa Tuan menangkap kami yang tidak mengucapkan dan menuliskan bahwa itu adalah tujuan partai kami?”

Vermijs tidak menjawab.

Ia mengajukan hal lain. Ancaman lain.

“Mataku tidak bisa ditipu. Saya bukan anak kecil yang baru lahir. Tidak sia-sia bertahun-tahun lamanya saya mempelajari bagaimana cara yang paling baik untuk menindas pergerakan rakyat. Kalau saya lihat bawha pergerakan rakyat sudah agak kuat dengan segera saya putar lehernya,” kata Tuan Vermijs sambil menirukan suara seperti leher yang dicekik lalu dipelintir.

Hadi terbayang leher ayam yang tak berdaya. Ia bergidik kengerian.

“Ingatlah akan Partai Nasional Indonesia. Partindo. Dan Pendidikan Nasional Indonesia.

“Mulut Sukarno yang besar itu sudah saya bungkam! Hatta sudah saya lumpuhkan. Thamrin sudah marhum. Saya cukup punya bukti bahwa dia suka bekerja bersama-sama dengan Nippon.

“Sekarang mengapa kamu tak berterima kasih kepada pemerintah Hindia Belanda? Mengapa kamu-kamu yang menyebut diri sebagai pemimpin-pemimpin tidak henti-hentinya memburukkan nama pemerintah? Sementara yang kalian terima tak kalian sebut-sebutkan?

“Indonesia Merdeka? Apa gunanya?” kata Tuan Vermijs. | (Bersambung)

Catatan: Artikel ini ditulis ulang dengan penyuntingan dari buku : “Dibelakang Kawat Berdoeri” oleh Asmara Hadi (H.R) (Pemandangan, 1942).

Iklan

2 pemikiran pada ““Indonesia Merdeka? Apa gunanya?” kata Tuan Vermijs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s