Kebahagiaan Markus dan Petani Tembakau

 | Oleh Hasan Aspahani |

KEBAHAGIAANNYA adalah ketika melihat perdu tembakau tumbuh subur, dengan daun-daunnya yang berkembang sempurna. Ia bisa menemukan itu di Temanggung, Madura, atau di Lombok, Nusa Tenggara Barat, tiga daerah sentra penghasil tembakau yang dalam empat belas tahun terakhir menyita aktivitasnya. Saya melihat kebahagiaan itu dalam foto profil di akun Whatsapp-nya.

2015-10-17 20.11.58
Markus dan petani tembakau di tengah hamparan tembakau Virginia FC di Lombok, NTB.

Ia tersenyum lebar bersama seorang petani perempuan bercaping di tengah hamparan tembakau setinggi dada.

“Itu tembakau Virginia FC, di Lombok,” kata Markus, menjelaskan fotonya itu.

Namanya Markus Kristianto. Wajahnya tak berubah, hanya sedikit gemuk, dan rambut gondrongnya yang selalu saya ingat kini tak ada lagi. Berselisih satu tahun, kami kuliah di kampus yang sama.

Markus kini bekerja di sebuah perusahaan penyedia sarana produksi pertanian yang berkantor di Semarang. Sebagai Manajer Area wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, ia memimpin sebuah divisi yang mereka sebut Tim Tembakau.

“Tim ini yang bertanggung jawab dalam menjaga dan mengembangkan pasar tembakau,” ujar Markus. Perusahaan di mana dia bergabung sudah 25 tahun berurusan dengan dunia tembakau di Indonesia.

Markus dan Tim Tembakaunya tidak membangun hubungan dengan para petani hanya sebagai penjual dan pembeli. “Kami bukan sekadar penjual saprodi, pupuk dan pestisida,” katanya, “Lebih daripada itu, kami ingin terlibat banyak memberikan solusi-solusi untuk keberhasilan pertanian mereka. Misalnya dengan memperkenalkan teknologi budidaya yang lebih baik on farm dan off farm, pengolahan hasil panen, sampai pemasaran,” tambahnya.

Itu yang membuat Markus lebih banyak menghabiskan waktu kerjanya di hamparan ladang tembakau, bertemu para petani.

Dan dia sangat menikmati itu. Ia juga penikmat kopi.

Dulu di Kampus, dia adalah senior saya di Azimut, perkumpulan mahasiswa pencinta alam di Jurusan Tanah, Faperta, IPB, Bogor. Dia juga aktif sebagai pembina Pramuka. Ini yang mungkin membuatnya dia menikmati pekerjaannya yang sekarang, yang membuatnya banyak bertemu untuk membina petani.

Di sentra-sentra tembakau yang ia layani tadi, empat belas tahun bertemu dengan banyak petani yang berbeda-beda, Markus tahu betul bagaimana tanaman itu menyejahterakan petani. Ia juga melihat bagaimana tembakau mendorong pergerakan perekonomian di daerah pedesaan.

Tembakau tak bisa ditanam sepanjang tahun. Biasanya tembakau ditanam di saat kemarau setelah tanaman padi atau jagung. “Selain itu, ini juga terkait dengan karakter tembakau yang pada umumnya tidak menyukai lahan tanam dengan air berlebih,” kata Markus. Maka ancaman terbesar bagi tembakau adalah musim ekstrim: terlalu kering, atau terlalu basah.

Tembakau jenis Virginia FC umumnya ditanam sekitar akhir Mei dan pertengahan Agustus sudah mulai petik.

“Pemetikan daun tembakau itu bertahap. Daun bawah dulu, terus daun tengah, terakhir daun atas. Kenapa begitu? Karena memang kematangan daun tembakau dari daun tua yang di bawah,” jelasnya.

2015-10-17 20.06.55
Tembakau virginia rajangan siap diangkut ke pabrik rokok.

Hanya 18 hingga 22 daun yang dipanen pada sebatang pohon tembakau. Setiap kali petik, biasanya hanya tiga lembar daun per pohon. Sehingga pada satu musim bisa enam atau tujuh kali pemetikan. Daun-daun yang sudah dipetik diproses di gudang atau oven milik petani sendiri.

Dari mana daun tembakau dipetik, posisinya pada batang pohon menentukan kualitasnya. “ini terkait dengan kandungan gula, dan nikotin yang berbeda. Pada umumnya daun yang ada di tengah batang adalah daun terbaik karena komposisi gula dan nikotinnya yang paling ideal,” ujar Markus.

Saya bertanya apakah semua petani tembakau kaya? “Tidak juga. Bukan karena tembakaunya ya. Ini terkait pola pikir dan mentalitas petaninya. Tapi harus diakui bahwa telah membantu petani dan perekonomian di daerah,” kata Markus.

Petani tembakau Virginia FC di Lombok umumnya menanam minimal satu unit luasan lahan. Satu unit itu sama dengan 1,25 hingga 1,5 hektare. Untuk itu, dari persiapan lahan hingga panen perlu modal Rp50 juta.

Tembakau, salah satu varietas yang banyak ditanam di Indonesia, merupakan adalah salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai nilai ekomomi tinggi di Indonesia. Ratusan ribu tenaga kerja   bergelut dengan komoditas ini dan dari perdagangan komiditas ini – yaitu dalam bentuk olahannya yang paling banyak diperdebatkan rokok kreatek dan turunan olahan tembakau lainnya – negara mendapatkan pemasukan puluhan triliunan rupiah.

Virginia FC telah terbukti cocok untuk di beberapa lahan-lahan sentra tembakau tadi. Kecocokan varietas dan kondisi lahan adalah syarat pertama unuk keberhasilan bertanam tembakau. Karena itu, dalam petunjuk praktik pertanian yang baik untuk tembakau, yang selalu disampaikan Markus kepada petani, soal varietas ini adalah urutan nomor satu.

Di Indonesia beberapa daerah identik dengan jenis tembakau tertentu. Selain Lombok, yang dikenal sebagai sentra tembakau Virginia FC, ada Bojonegoro yang dikenal sebagai sentra penghasil Virginia rajangan. Untuk tembakau Jawa rajangan Temanggunglah pusat produksinya. Madura menghasilkan tembakau lokal yang disebut tembakay Madura rajangan. Adapun Jember dikenal sebagai penghasil tembakau cerutu (NaOosgt) dan tembakau kasturi. Sedangkan Paiton adalah penghasil tembakau Jawa lokal rajangan.

“Para petani selalu kami ingatkan untuk menanam varietas tembakau yang telah direkomendasikan oleh gudang atau pabrikan pembeli atau oleh dinas terkait. Sedapat mungkin varietas yang ditanam adalah varietas yang selama ini telah terbukti cocok untuk ditanam di masing-masing daerah,” ujarnya.

Dan tentu saja tanah yang akan ditanami tembakau sebaiknya diolah dahulu dengan baik.

Para pekerja mengolah tembakau rajangan di gudang milik opkuper atau pedagang pengumpul yang terhubung dengan pabrik rokok.
Para pekerja mengolah tembakau rajangan di gudang milik opkuper atau pedagang pengumpul yang terhubung dengan pabrik rokok.

Saya jadi teringat kuliah-kuliah wajib kami, terutama Dasar-Dasar Ilmu Tanah, sebuah mata kuliah legendaris. Empat SKS, dengan tiga jam kuliah per minggu dan tiga jam praktikum. Susah sekali untuk mendapatkan nilai A, apalagi bagi mahasiswa yang suka sok sibuk dengan berbagai aktivitas nonakademis seperti kami.

Saya membayangkan bab-bab dalam diktat tebal mata kuliah itu ketika membaca penjelasan Markus tentang kenapa tanah harus diolah: ….Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Pengolahan tanah yang baik akan menjadikan tanah lebih gembur dan aerasi tanah menjadi lebih baik. Dengan aerasi yang baik maka akan mendorong perkembangan akar tembakau menjadi lebih baik. Perkembangan akar yang baik akan mendorong peningkatan efisiensi penyerapan unsur hara dan efektifitas pemupukan.

“Dengan perkembangan akar yang baik akan menopang dan mendorong perkembangan tanaman menjadi lebih optimal,” kata Markus.

Kebahagiaan Markus adalah ketika melihat, daun-daun tembakau dikeringkan, dirajang, dikemas dalam bal-bal, dan bal-bal tembakau rajangan membumbung di bak-bak truk, siap diangkut ke perusahaan rokok. Karena itu berarti dia bisa berbagi ilmu dan teori-teori tentang Kesuburan Tanah, Pupuk dan Pemupukan, – mata kuliah yang hanya bisa diambil kalau kami lulus minimal dengan nilai C pada mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah. |

Catatan: Foto-foto pada artikel ini semuanya karya Markus Kristianto. 

Iklan

2 pemikiran pada “Kebahagiaan Markus dan Petani Tembakau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s