Sukarno dan Ketiak Cewek Agen CIA di Istana Negara

Oleh Hasan Aspahani |

PRESIDEN Sukarno dan putra pertamanya Guntur punya kesepakatan. Semacam gentlement agreement. Isinya: Guntur berhak untuk tidak mengenal dan mengakui para hindul-hindul markindul (ini sebutan anak-anak Sukarno untuk perempuan-perempuan Sukarno, setelah Fatmawati, ibu kandung mereka). Guntur juga boleh melarang adik-adiknya untuk berhubungan dengan ‘selir-selir’ Sukarno itu.

Sukarno juga sepakat untuk tidak mengizinkan para hindul-hindul markindul itu untuk masuk ke Istana Negara untuk menjaga perasaan Bu Fat dan adik-adik Guntur. Sebaliknya, Guntur harus menghargai dan mengakui hak ayahnya sebagai seorang muslim untuk menikah lebih dari satu.

Guntur juga diberi kebebasan untuk tidak menyetujui pernikahan-pernikahan ayahnya dan berhak secara terbuka menentang pernikahan itu. Guntur sebagai anak sulung adalah pembela kehormatan ibu dan adik-adiknya, tetapi juga harus menghormati hak-hak ayahnya sebagai lelaki.

Dalam urusan perempuan, Sukarno di mata Guntur memang terbuka, demokratis, dan blak-blakan. “Bapak tidak hipokrit, tidak plintat-plintut, apalagi sembunyi-sembunyi,” kata Guntur, dalam buku “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”.

Urusan hindul-hindul markindul ini selalu menjadi pembicaraan di antara anak-anak Sukarno. Pada tahun 1963 atau 1964, Guruh kuliah dan tinggal di Bandung. Jika sekolah libur, adik-adiknya kerap berkumpul di rumah Guntur di Bandung. Saat itulah biasanya adik-adiknya yang tinggal di Istana melapor kepada Guntur.

“Dis, gimana kabarnya istana? Aman-aman saja nggak?” Adis adalah panggilan keluarga pada Megawati.

“Sekarang lagi biasa-biasa saja.”

“Ada hindul-hindul yang menyeludup masuk nggak?”

Sukarno dan Marylin Monroe.
Sukarno dan Marylin Monroe.

“Kayaknya sih nggak. Pada ngeri kali. Gara-gara Mas Tok labrak si Deweh.” Deweh adalah sebutan anak-anak Sukarno kepada Ratna Sari Dewi.

“Bapak masih ngambek sama gue?”

“Tahu deh. Kayaknya sih nggak. Buktinya Mas dikirimi duit, kan?”

“Uh, dikirim sih dikirim. Tapi buat ngebakso juga nggak cukup, Dis.”

Guntur lalu juga bertanya kepada Bu Hadi, pengasuh Rachmawati. “Bu, Bapak masih marah ya sama saya?”

“Ah, ya ndak, Mas. Masa marahnya terus-terusan. Bapak kan biasa gitu, marah ya marah, tapi habis itu ya sudah…”

Pembicaraan mengalir ringan. Megawati mulai membuka kecurigaannya.

“Eh, Gun, tapi aku sekarang ini di Istana agak curiga sama satu orang deh.”

“Curiga sama siapa?”

“Enggak. Soalnya gini. Kita-kita sekarang ini kalau latihan tari di Istana ada mahasiswa Amerika ikut latihan.”

“Lho, emangnya kenapa kalau ada yang ikut latihan?”

“Iyaaaa, nggak apa-apa. Tapi ini mahasiswanya cewek. Lagian cakep. Dia ini katanya mau mempelahari kesenian daerah Indonesia. Terus minta izin sama Bapak apa boleh belajar tari-tarian Jawa sama-sama kita. Sama Bapak dikasih izin. Jadi sekarang dia latihan menari sama-sama kita. AKu takut, jangan-jangan Bapak naksir dia. Nanti kan hindul-hindul markindul bisa jadi nambah!”

“Ah, kamu sih pikirannya jelek aja. Nanti deh kalau gue ke Jakarta gue selidiki. Ngomong-ngomong, cakepnya seberapa cakep sih, Dis? Sama Si Deweh cakepan mana?”

“Oh, ini tipenya lain. Bukan tipe timur, pokoknya cakep deh. Ampun! Mirip Suzanne Pleshete, tapi rambutnya panjangan, apalagi kalau pakai kebaya Jawa. Waduh luwes sekali!”

Bu Hadi menyelingi penjelasan Megawati. “Iya, Mas. Bu Hadi kok ya gimana ya.. lah kok ada putri Amerika kalau busana kebaya, waaah, sudah toh, gandes luwes! Putri Solo asli kalah pokoknya…”

“Masa sih, Bu Hadi?”

“Betul, Mas! Mari to tak priksani di Jakarta.”

“Bapak sama dianya kira-kira gimana? Lirik-lirik nggak?”

“Kalau soal itu Bu Hadi ya kurang periks, Mas.”

“Kalau menurut aku sih… Bapak ya agak lirik-lirik juga deh. Terus Si Bule-nya juga gitu…”

“Ah, tahulah! Emang susah punya Bapak ngganteng. Cewek pada ijo matanya.”

“Kalau situ sebaliknya, mata situ yang ijo kalau lihat cewek.”

“Brengsek lu, Dis! Emangnya Buto Terong…”

*

Atas laporan adik-adiknya, Guntur meninggalkan Bandung ketika libur kuliah. Yang dicarinya pertama adalah Si Cewek Bule yang belajar menari di Istana bersama adik-adiknya. Cewek itu memang ikut berlatih bersama beberapa gadis dari luar istana yang rutin latihan di Istana.

Guntur melihat Si Cewek Bule belajar sangat serius. Lebih serius dibandingkan adik-adiknya sendiri. Dia juga tampak belajar keras menguasai adat istiadat Jawa, pakaian, dan tatarias tradisional.

Sementara peserta lain berlatih dengan rok atau jins, dia menari dengan kain dan kebaya, dengan rambut disanggul sederhana. Jika ia melewati orang yang lebih tua, dia juga menunduk hormat. Dia juga melayani orang tua dengan luwes dan hormat. Perilakunya sudah sangat Jawa. Selama di Istana, dia juga ikut menjadi semacam pelayan rumah tangga bagi Sukarno dan anak-anaknya. Menyiapkan makan, juga membereskan meja usai makan. Ia juga menyayangi adik-adik Guntur, terutama yang masih kecil.

Si Cewek Bule cepat sekali beradaptasi dan diterima di Istana. Keterampilan menarinya pun lekas sekali maju. Guntur bisa mengerti jika ayahnya tertarik padanya.

Gadis itu memang cantik. Usia awal 20an, berkulit kuning, mulus, mancung, bermata biru gelap, bibirnya merekah merah muda, dadanya matang, berisi, pinggulnya telah mencapai ukuran kematangan seorang perempuan, dan tingginya 170 sentimeter. Guntur membayangkan seorang Ken Dedes.

Dan dengan alasan dan situasi seperti itu, maka saatnya Guntur menajalnkan tugas menginterogasi ayahnya yang sedang asyik mengamati sang bidadari putih itu menari.

“Pak, itu cewek Amerika siapa sih?”

“Mahasiswi sana yang mau memperdalam kesenian Indonesia di sini. Dia itu keluarganya memang sejak dulu sudah mencintai Indonesia. Jauh sebelum kita merdeka. Waktu kita memperjoangkan kemerdekaan, seluruh keluarganya di Amerika bersimpati pada perjuangan kita dan membantu usaha-usaha propadanga kita di sana…”

“Oh…”

“Nah, setelah kita merdeka maka anaknya yang sudah menjadi mahasiswi dikirim kemari untuk memperdalam pengetahuannya tentang Indonesia. Terutama soal-soal yang berhubungan dengan ksenian.’

“Ooooh.”

“Bapak terus-terang tertarik keapdanya terutama sekali oleh karena jiwa keindonesiaannya itu. Jarang orang Barat yang bisa mencintai negeri orang lain seperti dia itu…’

“Ooooooooooh.”

“Kau tahu, Tok? Dia itu sekarang dengan adik-adikmu sudah sperti saudara sekandung akrabnya. Dia sudah menganggap adik-adikmu seperti adiknya sendiri. Dan adik-adikmy juga senang padanya. Agar mereak lebih akrab aku pikir sebaiknya dia kusuruh tinggal saja di sini sebagai…yah.. katakanlah… kakak angkat adik-adikmu. Kau setuju, ndak?”

“Ooooooooooooh, eh, gimana ya, Pak?”

“Oh oh oh, gimana ya Pak…”

Guntur sudah membaca kemungkinan akan ada hindul-hindul markindul baru.

“Adik-adikmu setuju saja asal kau setuju. Bapak sudah tanya pada mereka. Gimana, Tok?”

“Mmmm, aaa.. aku minta waktu buat mikir, Pak.”

“Berapa lama? Jangan terlalu lama!”

“Satu bulan, deh.”

“Ya, pikirkanlah.”

*

Guntur kembali ke Bandung. Satu bulan berlalu. Guntur belum juga bisa memutuskan sikapnya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia diam, menunggu ayahnya yang bertanya padanya. Ternyata sampai tiga bulan berlalu, Sukarno belum juga bertanya. Ini justru membuat Guntur curiga. Ketika ada kesempatan ia langsung ke Jakarta. Diam-diam ia menyelidiki situasi, tanpa setahu Sukarno. Hingga pagi itu, di depan kamar tidur Sukarno, Guntur yang memulai percakapan.

“Pak?”

“Hei, Tok. Kapan kau datang?”

“Sudah tiga hari?”

“Tiga hari? Kemana aja, kok nggak nemuin Bapak?”

“Ah, ada, di sini-sini aja. Pak, kemarin waktu latihan menari, kok saya tak melihat cewek Amerika yang dulu itu?”

“Heh? Kau belum tahu?”

“Belum. Ada apa, Pak?”

“Dia diusir dari Indonesia.”

“Hah? Diusir? Kenapa, Pak?”

“Wah, hampir saja Revolusi Indonesia kebobolan.”

“Kebobolan gimana, Pak?”

“Kau tahu ternyata dia adalah anggota CIA.”

“CIA?”

“Iya. Central Intelligence Agency, Amerika.”

“Wah, bahaya banget. Apa sebelum kesini Bapak nggak checking dulu siapa dia?”

“Sudah. Semua laporan mengenai dia bersih.”

“Intel Tjakra?”

“Sami mawon. Bobol!”

“Terus, tahunya dia intel dari mana?”

“Untung Pak Ayub kasih warning kepada Bapak dan beritahu soal keanggotaan dia di CIA.”

“Ayub? Ayub siapa?”

“Ayub Khan. Presiden Pakistan.”

“Oh, Pak Ayub Khan tahunya darimana ya?”

“Barangkali nyolong dari data intelnya CENTO. Bayangkan kalau Pak Ayub tidak kasih tahu, barangkali Bapak sudah tidur liyer-liyer di keleknya CIA!”

“Apek dong Pak baunya tidur di kelek!”

“Ah, belum tentu juga… kalau secantik yang Bapak usir, Bapak rasa keleknya ndak apek, barangkali harum!”

“Huh, huh, Bapak bisa aja!”

*

Kemudian hari informasi tentang gadis intel CIA itu juga disampaikan oleh seorang ahli filsafat Inggris Lord Bertrand Russel, yang juga pejuang perdamaian kenamaan dari Inggris. Megawati melaporkann ke Guntur soal surat Lord Russel yang berisi daftar black-list CIA. |

Catatan:

  1. Tulisan ini diolah dari buku Guntur Soekarno, “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”, terbitan P.T. Dela-Rohita Jl. New Delhi, 342, Senayan, Jakarta Pusat, 1977.
  2. Judul asli tulisan ini adalah “Bung Karno Kontra C.I.A”.
  3. Percakapan-percakapan dalam kalimat langsung dikutip apa adanya dari buku.
Iklan

3 pemikiran pada “Sukarno dan Ketiak Cewek Agen CIA di Istana Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s