Buku Marx dan Engels di Ruang Kerja Mayjen Sutojo Siswomihardjo

| Oleh Hasan Aspahani |

CALON Jaksa Agung itu dibunuh pada malam 30 September 1965.

Beberapa bulan-bulan menjelang malam berdarah itu, aktivitas  Sutojo Siswomihardjo meningkat. Hubungan pribadi dengan putri tertuanya pun memburuk, hanya karena soal mesik ketik yang tak ditutup kembali. Situasi politik memanas. Kabar pengangkatannya menjadi Jaksa Agung sampai melalui ajudannya Letda Sutarno.

Ia tidak terlalu yakin.

Kabar yang didapat ajudannya, surat pengangkatan itu sudah diketik, tinggal menunggu tandatangan Presiden.

Prangko bergambar Mayjen TNi AD Sutojo Siswomihardjo.
Prangko bergambar Mayjen TNI  Anumerta Sutojo Siswomihardjo.

Pada bulan-bulan itulah isu Dewan Jenderal berhembus. Dan Sutojo disebut-sebut sebagai bagian dari Dewan Jenderal yang disebut-sebut akan merebut kekuasan dari tangan Presiden Sukarno. Dan pihak istana mempercayainya.

Yang diangkat menjadi Jaksa Agung kemudian adalah Jenderal Soetardhio.

Bukan Sutojo.

*

            Rumah di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta itu sedang direnovasi. Renovasi besar. Garasi dan pintu pagar belum selesai, membuat rumah itu terbuka. Sutojo meminta untuk sementara putri keduanya, sudah 15 tahun usianya ketika itu, menumpang di rumah adiknya, di Cikini. Tiap akhir pekan si putri pulang. Ia punya kebiasaan membersihkan kamar kerja ayahnya.

Di kamar kerja ayahnya itulah sang putri mengenal ayahnya, dari buku-buku yang dibaca ayahnya, buku sejarah, politik, biografi tokoh, manajemen, hingga novel-novel karya Graham Green, Ian Fleming, dan Alexander Solzhenitsyn. Juga buku-buku ideologi karya Karl Marx dan Freidrich Engels. Buku-buku karya dua pengarang terakhir itu, kadang dicoba juga untuk dibaca oleh sang putri.

“Ah, saya tak mengerti. Buku yang suram,” ujarnya.

Suatu hari, Sutojo menelepon anaknya di rumah tantenya. Ia marah karena mesin ketik di ruang kerjanya tak ditutup kembali, setelah ada yang memakai. Si putri tak merasa telah memakai dan terakhir kali ia ingat telah membereskan meja dan ruang kerja itu sebagaimana rutin ia lakukan. Ia tentu saja kesal pada ayahnya. Akhir pekan itu ia tidak pulang. Ayahnya yang merasa bersalah mendatanginya, minta maaf.

Mereka bicara seperlunya.

Sutojo mengerti, putrinya masih kesal padanya.

Dan itu terjadi dua minggu sebelum 30 September 1965.

Pada hari yang tragis itu, barulah putrinya pulang. Sore itu ayahnya pulang sebentar hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Ia harus kembali ke sebuah acara di Istora Senayan, di mana Presiden Sukarno akan berpidato, sebagaimana biasa.

Dan pamit ayahnya pada sore itu adalah pamit yang terakhir. Sutojo sudah menghadap pintu utama, ia memutar sedikit badannya ke belakang, melambaikan tangan. “Sudah ya, Nan, Papap pergi dulu…”

Lalu ia bergegas berangkat.

*

            “Kok ruangan ini panas ya?”

“Siap, Pak. AC-nya sudah dihidupkan dari tadi.”

Sutojo mondar-mandir saja di ruang kerjanya. Ia lalu menuju ruang ajudannya.

“Lho, di ruanganmu ini malah dingin. Gimana sih ini?”

“Siap, Pak. Justru di sini gak pakai AC, Pak…”

Letda Sutarno, mengingat percakapannya dengan atasannya 29 September 1965 itu sebagai firasat.

*

            Anak-anak Sutojo tidak tahu jam berapa ayahnya pulang malam itu. Rumah itu sedang direnovasi. Renovasi besar. Hanya ada dua kamar yang bisa dipakai. Tiga anaknya tidur berempat bersama Tantenya yang sementara menumpang. Kamar itu berpintu tiga. Pintu ke ruang tengah. Pintu akses ke dapur. Dan satu pintu menghubungkan dengan kamar orangtua mereka.

Tak ada yang sempat melihat jam, ketika subuh itu tiba-tiba saja pecah suara gaduh. Orang-orang berteriak kasar, memaki, memanggil nama Sutojo tidak dengan nada hormat, dan derap sepatu lars. Mereka masuk langsung lewat garasi. Pagar rumah itu belum lagi selesai, membuat tamu-tamu tak diundang malam itu leluasa merangsek masuk.

Seisi rumah terbangun. Pintu yang menghubungkan kamar orang tua dan anak-anak dibuka oleh perempuan yang mereka panggil sebagai ibu. Naluri ibu pada perempuan itu untuk melindungi anak-anaknya membuatnya memberi perintah untuk mengamankan diri.

“Cepat, kunci pintu!”

Baru saja pintu ke ruang tengah itu terkunci, crass! Satu bayonet dihantamkan menembus pintu jati itu. Sang Putri yang tadi baru saja menguncu pintu itu terkesiap. Untung saja ia telah bergerak menjauh dari pintu itu.

Ia sangat ketakutan.

Lalu tak peduli pada apa-apa lagi, ia sembunyi di bawah tempat tidur, tempat yang dalam pemikirannya saat itu adalah paling aman untuk bersembunyi. Ia mendengar barang-barang dihancurkan. Semua barang di rumah itu dihempaskan, dibanting, dipopor pangkal senapan. Juga botol-botol yang penuh berisi sirup buatan nyonya rumah, yang ketika mengalir kental dari ruang makan, sempat dikira darah.

Tak ada suara tembakan.

Sutojo tak tahan membiarkan istri dan anak-anaknya terteror oleh kagaduhan dan kebengisan pasukan yang tidak ia kenal dan ia tak tahu apa maksud kedatangannya. Dengan piyama batik, ia ikut saja oleh jemputan paksa dini hari itu. Para penjemput itu menyebut diri sebagai pasukan pengawal Presiden Sukarno: Cakrabirawa.

Setengah jam kemudian, suara-suara itu hilang, bersama derap sepatu lars menjauh. Tersisa keheningan, tapi ketegangan tak mereda.

*

            Pada tahun 1961, bersama Kolonel Ahmad Yani yang memimpin delegasi Angkatan Darat Indonesia, Sutojo, sebagai atase militer RI di London, ikut meneken pembelian panser untuk Angkatan Darat. Sutojo dan anak-anaknya, serta istri keduanya, yang merawat anak-anak dari istri pertamanya sebagai anak kandung pernah lama tinggal di London.

Panser itulah yang membawa jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Nani tidak bisa menangis. Ia menangis nanti, setelah 1.000 hari berlalu sejak pemakaman itu. Ia tidak bisa menangis, karena ayahnya, Mayjen Sutojo Siswomihardjo mendidiknya untuk menjadi perempuan yang kuat. Ia anak kedua, satu-satunya perempuan, dari tiga saudara seayah-seibu.

Hari pemakaman itu hanya menjawab kepastian nasib ayahnya. Setelah teror di rumah di Jalan Sumenep, subuh itu, informasi lumpuh, dihantam kesimpangsiuran misteri. Siapa yang menculik ayahnya? Koran-koran berhenti terbit. Radio menyiarkan kabar tentang negara yang baru saja diselamatkan dari ancaman kudeta Dewan Jenderal, tentang Dwikora yang demioner, lalu beberapa hari kemudian berita lain yang bertolak belakang, tentang Dewan Revolusi yang keblinger dan kemudian ditumpas.

Hari pemakamanitu hanya menjawab dengan pasti nasib para jenderal yang diculik dan dibunuh. Misteri atas peristiwa itu, meski sedikit demi sedikit terkuat kabutnya, hingga kini masih saja jadi beban dalam sejarah bangsa ini, juga bagi putri sang jenderal.

*

Nani Nurachman Sutojo saat peluncuran bukunya, 2013. Foto dari Metrotvnews.co, oleh Eric Ireng (Antara).
Nani Nurachman Sutojo saat peluncuran bukunya, 2013. Foto dari Metrotvnews.co, oleh Eric Ireng (Antara).

Satu siang di R.S. Gatot Subroto, bulan Agustus 1975. Seorang dokter menatap seorang pasien dengan tatapan bersalah dari balik kacamatanya. Seakan ingin memohon maaf. Si pasien terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Dokter dengan pakaian putih itu mendekat dan mengenalkan diri sebagai dr. Imam Sujudi, SPOG. Nama yang tak asing bagi si pasien. Di tanah air nama itu mencorong sebagai ahli yang menonjol di bidangnya.

Dokter senior itu membungkukkan badan. Kedua tangannya berpegangan pada kerangka besi di ujung ranjang pasien itu. Ia tersenyum. Senyum yang serta-merta juga dibalas oleh si pasien yang tahu persis itu bukan dokter yang merawatnya. Tapi ia pikir mungkin saja ada hal medis yang membuat rumah sakit menyuruh dr Imam menemuinya. Ia memang harus dirawat inap karena ada masalah pada kandungannya, kehamilan anak pertamanya.

“Anda putri Pak Sutojo dan Bu Sri Rochjati?”

“Ya, Dokter…”

Dokter itu sejenak terdiam. Seakan mengumpulkan dan menyusun lagi kata-kata yang ingin ia sampaikan.

“Saya minta maaf karena tak berhasil menyelamatkan jiwa ibumu. Kamu masih kecil sekali waktu itu…”

Si pasien tersentak. Ia mencoba menerawang. Membuka simpanan ingatannya. Tak mudah, karena ibunya meninggal saat ia masih berusia lima tahun.

Sang dokter seakan mengerti kebingungan si pasien. Ia lalu menjelaskan secara ringkas, dalam bahasa yang ia permudah, menghindari istilah-istilah medis. Ia jelaskan kondisi Sri Rochyati, pasien yang tak bisa ia selamatkan itu, gangguan kesehatan yang diderita, hingga maut merenggut nyawanya.

“Saya minta maaf….” Kata Sang Dokter, dan air mata mengembang di matanya.

Pasien itu, Indra Ratnawati, lebih akrab disapa dengan nama kecil Nani, terharu atas ketulusan sang dokter. Ia tak sempat bertanya dari mana dr. Sujudi tahu bahwa ia sedang dirawat di RS itu. Lagi pula, peristiwa kematian ibunya itu terjadi, di tahun 1952, telah berlalu 23 tahun. Selama itu, mereka tak pernah berjumpa dan tak saling kenal juga. Tentu saja, Nani memaafkan dr. Sujudi, dtan sesungguhnya dia pun tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Ia tersentuh dan kagum pada sosok dan ketulusan sang dokter.

“Terima kasih, Dokter, atas penjelasannya. Tidak apa-apa. Itu sudah kehendak Tuhan,” kata Nani dengan tangan menerima erat jabatan tangan dr. Sujudi.

Dan pertemuan singkat itu mengakhiri tanda tanya besar dalam hidup Nani selama ini.

*

            Do your best. It may be not the best, but it is the best that you possibly can do!

Kalimat itu seperti abadi dalam ingatan Nani. Ayahnya, Mayjen Sutojo Siswomihardjo memberinya nasihat itu. Ayahnya adalah seorang petinggi militer dengan kemampuan manajerial yang handal. Berkali-kali ayahnya mendapat tugas untuk membereskan kekacauan manajerial di Angkatan Darat. Terutama soal korupsi dan penyelewengan keuangan negara.

“Hanya ada dua jenderal dalam jajaran Staf Umum Angkatan Darat di tahun 1964-1965 yang saya percaya. Mereka adalah Kepala Staf Satu Jenderal S. Parman dan Mayor Jenderal Sutojo Siswomihardjo, Oditor Jenderal Angkatan Darat. Keduanya punya intergritas dan kejujuran,” kata Seohario Padmodiwiryo alias Hario Kecik dalam memoarnya.

Itu juga yang dikatakannya kepada Presiden Sukarno.

“Jadi kamu percaya pada Sutojo dan S. Parman?”

“Betul, Pak. Jalan pikiran saya dan mereka berdua sama dalam beberapa masalah penting seperti korupsi dan politik antikapitalisme, imperialisme dan feodalisme. Pada tahun 1954, pada gerakan antikorupsi yang saya pimpin, mereka berdua membantu saya secara aktif…” kata Hario Kecik.

Hario Kecik ditahan sepuluh tahun tanpa pernah diadili. |

Catatan:

  1. Artikel ini diolah dari buku Nani Nurrachman Sutojo, putri Jenderal Sutojo Siswomihardjo, salah seorang jenderal yang dibunuh pada peristiwa Gerakan 30 September 1965, dan kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.
  2. Buku itu berjudul “Kenangan Tak Terucap, Saya, Ayah, dan Tragedi 1965” (Penerbit Buku Kompas, 2013).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s