Sajak “Sitoeasi” dan Bagaimana Chairil Menuliskannya

Manuskrip sajak
Manuskrip sajak “Sitoeasi” dengan tulisan tangan Chairil Anwar, koleksi PDS H.B. Jassin.

 

Oleh Hasan Aspahani

SEJAK semula, Chairil sudah tahu judul sajaknya ini. Ia menuliskannya dengan pasti: “Sitoeasi”. Dan _ _ _ _ _ _ _ _ (yang kelak dicetak sebagai segaris panjang tanda titik)

Lalu baris pertama:

            Tidak perempoean! diri masih jang hidoep adl

Sampai di sini penyair kita berhenti menulis. Lalu menimbang pengucapan lain, sebelum ia akhirnya menemukannya, mencoret ‘diri masih’, mencoret ‘adl‘, dan bait itu akhirnya terbaca sebagai:

            Tidak perempoean! Jang hidup dalam diri

***

Kata ‘masih’ tadi rupanya diperlukan di awal bait kedua:

            masih lintjah mengelak dari peloekmoe gemas gelap,

***

Baris ketiga adalah sisipan. Perhatikan garis petunjuk agar baris itu diseret pada posisi awal baris:

            bersikeras mentjari kehidjauan laoet lain,

***

Baris keempat adalah bait ketiga sebelum penyair kita menyisipkan satu bait di baris sebelumnya:

            dan berada kembali di kapal doeloe bertemoe,

“kembali”? atau “lagi”? Mana yang lebih kuat? Dan penyair kita akhirnya memenangkan kata “lagi”.

            dan berada lagi di kapal doeloe bertemoe,

***

Baris ke-5.

Penyair kita memulai dengan ragu. Ia telah menuliskan:

berlepas kemoedi... belum selesai, ia mencoretnya. Lalu menimbang lagi, dan akhirnya mengembalikan baris yang dicoret tadi dengan lanjutkan yang sudah utuh:

            berlepas kemoedi pada angin,

***

Baris ke-6.

          Mata terpikat pada bintang jang menanti.

Dan penyair kita juga bisa salah eja. Koreknya pada huruf awal kata ‘terpikat’, lihat? Bukankah huruf itu semula adalah ‘s’, lalu dikoreksi menjadi ‘t’?

Bahkan di akhir baris ini, tanda baca titik pun kemudian diganti menjadi koma. Begitu cerewet dan cermatnya penyair kita!

***

            Sesoeatoe jang terasa kembali menandoengkan Tai Po.

Kata ‘mengepak’, sepertinya disisipkan lebih dahulu di antara ‘terasa’ dan ‘kembali’, sebelum kata ‘terasa’ itu dicoret. Menjadikan bait itu terbaca sebagai:

           Sesoeatoe jang mengepak kembali menandoengkan Tai Po.

***

Lalu:

            dan pantai tiada kelihatan

Ini pergantian radikal! Perhatikan tiga kata terakhir itu, jauh sekali dengan tiga kata yang menggantikannya, juga beda sekali makna yang dihadirkannya:

            dan rahasia laut Ambon.

***

            Tidak perempuan!

Sebuah upaya repetisi dari dua kata awal di baris pertama. Perlukah repetisi itu? Hmm, sepertinya tidak. Penyair kita pun mencari kata pengganti, tapi tetap mempertahankan ‘perempoean’, semacam eskalasi makna dan pengucapan…

            Begitoelah perempoean!

Dahsyat! Lalu dilanjutkan…

            …Hanya soeatoe garis kaboer jang melintang…

Frasa ‘jang melintang’ itu kemudian dicoret!  Digantikan dengan:

          …jang bisa kita toeliskan..

Sudah kuat? Terasa belum! Sebuah koreksi lagi, membuang kata ganti orang pertama jamak:

          …bisa ditoeliskan.

***

Dan baris terakhir yang ditulis dengan pensil. Sepertinya dituliskan pada hari yang tak sama dengan hari saat  seluruh sajak ini digubah, pada suatu hari di tahun 1946, di kota Tjirebon:

          dengan pelarian keboentoean senjoeman

(tanpa titik)

Dan, selesai.  Tersajilah pada kita sajak yang utuh:

            Sitoeasi
…………………………………………
Tidak perempoean! jang hidoep dalam diri
masih lintjah mengelak dari peloekanmoe gemas gelap.
bersikeras mentjari kehijaoean laoet lain,
dan berada lagi di kapal doeloe bertemoe,
berlepas kemoedi pada angin,
mata terpikat pada bintang jang menanti.
Sesoeatoe jang mengepak kembali menandoengkan Tai Po
                                                                  dan rahsia laoet Ambon
Begitoelah perempoean! Hanja soeatoe garis kaboer bisa ditoeliskan
dengan pelarian keboentoean senjoeman

                                                                                      Tjirebon, 1946

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s