Aidit: Anak-anak Saudara akan Jadi Komunis yang Baik!

 Oleh Hasan Aspahani |

“ANAK-ANAK Saudara akan jadi komunis yang baik. Percayalah,” kata D.N. Aidit kepada Mochtar Lubis.

Aidit mengatakan itu dengan penuh keyakinan.

Mungkin angkuh.

Dari dalam penjara, Mochtar mengingat dan menuliskan kalimat itu dalam catatan hariannya tanggal 5 Desember 1965, tiga bulan setelah peristiwa berdarah yang dalam sejarah negeri ini disebut Gerakan 30 September, yang dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kalimat Aidit itu terlontar ketika mereka berdiskusi, lalu berubah menjadi sedikit debat yang tak berkesimpulan tentang kedudukan komunis di Indonesia, 9 atau 10 tahun sebelum diingat dan dicatat kembali oleh Mochtar. Waktu itu mereka bertemu di sebuah resepsi di Kedutaan Besar RRC. Mochtar mengkritik PKI dan komunisme. Aidit menanggapi dengan tenang, lalu dengan senyum penuh keyakinan mengucapkan kalimat tadi.

Dalam kalkulasi Mochtar Lubis, Aidit dan PKI sesungguhnya nyaris saja berhasil. PKI selangkah lagi sudah bisa meraih kemenangan dan mewujudkan mimpinya menguasai Indonesia. Menjadikan anak-anaknya komunis.  Pimpinan terpenting Angkatan Darat sudah dihabisi, kecuali Jenderal A.H. Nasution yang lolos, Soekarno ada dalam pengaruh mereka. Angkatan Udara membantu, pasukan-pasukan komunis menguasai Jakarta, Jawa Tengah, dan beberapa tempat di Jawa Timur.

Dan massa mereka yang tiga juta kader jumlahnya tersebar di seluruh Indonesia.

Siap sedia.

Dengan kalkulasi itu seharusnya PKI tidak gagal.

Aidit tertawa saat difoto oleh Presiden Sukarno.
Aidit tertawa saat difoto oleh Presiden Sukarno.

Dan Mochtar Lubis, dari dalam penjara, membayangkan anak-anaknya: Iwan, Ade, dan Ira. Apakah mereka akan jadi komunis jika PKI berhasil menguasai negari ini? Mochtar tahu anak-anaknya yang pada waktu itu masih berusia belasan, semuanya anti-komunis. Tapi jika komunis berkuasa siapa yang bisa bertahan untuk tetap sebagai golongan yang anti-komunis?

*

D.N. Aidit pada tahun 1965 itu telah mencapai puncak dalam karir politiknya. Dia menerima penghargaan tertinggi dari negara yakni Bintang Mahaputera, atas kepahlawanan berikut keteladanan yang telah ia berikan dalam political leadership. Presiden Sukarno memberikan penghargaan itu kepadanya pada tanggal 13 September 1965, dalam sebuah upacara resmi di Istana Negara.

Ya, hanya 17 hari sebelum G30S itu.

Jenderal A.H. Nasution hadir dalam upacara penganugerahan tersebut. Dengan bintang Mahaputera tersemat di dada kirinya, Aidit menghampiri Nasution, dan mengamati tanda jasa pada pakaian militer resmi jenderal itu.

“Manakah dari sederet pita-pita jasa di dada Jenderal, mengenai operasi militer dalam Peristiwa Madiun tahun 1948?” tanya Aidit kepada Nasution.

Nasution tentu saja langsung menunjukkannya. Dengan senyum penuh percaya diri Aidit lalu menggandeng Nasution, menuju ke sekelompok wartawan dan meminta memotret mereka. Aidit pada waktu itu adalah Menteri Koordinator dalam Kabinet Dwikora. Ia juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara. Lihatlah kemenanganku. Aku yang dulu diburu oleh negara sebagai pemberontak, kini menerima penghargaan tertinggi dari  negara yang sama! 

*

         Apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1948 itu?

Pada mulanya adalah Muso. Tokoh pendiri PKI dan otak pemberontakan komunis tahun 1926 itu kembali dari Rusia, dan  bergabung lagi dengan partainya. Muso lalu menjadi ketua PKI, dan Aidit, umur 25 tahun ketika itu, dipercaya memegang divisi penting sebagai koordinator seksi perburuhan.

Muso memperkenalkan konsep Jalan Baru Bagi Republik, wujudnya adalah pendirian Soviet Republik Indonesia, yang sejalan dengan pemikiran Aidit. Dengan lekas, Madiun, Magetan, Cepu, Blora, dan sejumlah kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai massa PKI.

Yang disebut pemberontakan Madiun adalah peristiwa pada tanggal 18 September 1948, ketika puluhan ribu buruh dan tani mengambil alih pemerintahan di Madiun, Jawa Timur. Panglima Soedirman saat itu sedang berada Magelang. Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI Kolonel AH Nasution dipanggil Presiden Sukarno menghadapnya di Gedung Agung, kantor pemerintahan sementara di Yogyakarta.

Kolonel Gatot Subroto memimpin Divisi Siliwangi menumpas pemberontakan tersebut dengan lekas. Muso dan Amir Syarifudddin ditangkap dan dieksekusi mati. Aidit meloloskan setelah sempat ditahan di penjara Wirogunan.

Dan menghilang.

Untuk kemudian kembali membangun lagi PKI.

*

Sembilan tahun kemudian.

Pada tanggal 11 Februari 1957, D.N. Aidit berpidato di DPR menjelaskan – atau mengaburkan – peristiwa Madiun 1948 itu. Seorang anggota DPR dari Masyumi mengangkat lagi isu itu, mencoba membuka jalan politis, kemungkinan untuk mengajukan ke pengadilan tokoh-tokoh PKI yang terlihat, tentu termasuk Aidit.

Inilah akibatnya jika soal-soal di masa lalu tidak dituntaskan. Antara yang salah dan yang benar terbolak-balik, campur-baur.

Aidit pun naik mimbar berpidato membela diri dan PKI, sambil menyerang Hatta.

“Peristiwa Madiun didahului oleh kejadian-kejadian di Solo, mula-mula dengan pembunuhan atas diri kolonel Sutarto, Komandan TNI Divisi IV, dan kemudian pada permulaan September 1948 dengan penculikan dan pembunuhan terhadap 5 orang perwira TNI, yaitu major Esmara Sugeng, kapten Sutarto, kapten Sapardi, kapten Suradi dan letnan Muljono.

“Juga diculik dua orang anggota PKI, Slamet Wijaja dan Pardijo. Kenyataan bahwa saudara yang diculik ini pada tanggal 24 September dimasukkan ke dalam kamp resmi di Danurejan, Jokjakarta, membuktikan bahwa pemerintah Hatta langsung campurt angan dalam soal penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di atas. Ini tidak bisa diragukan lagi!

Kita lihat, bagaimana Aidit menyerang Hatta, dan selanjutnya berlindung di balik nama Sukarno:

“Dalam pidatonya tanggal 19 September 1948 Presiden Sukarno mengatakan bahwa Peristiwa Solo dan Peristiwa Madiun tidak berdiri sendiri. Ini sepenuhnya benar! Sesudah penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di Solo yang diatur dari Yogya, keadaan di Madiun menjadi sangat tegang sehingga terjadilah pertempuran antara pasukan-pasukan dalam Angkatan Darat yang pro dan yang anti penculikan-penculikan serta pembunuhan-pembunuhan di Solo, yaitu pertempuran pada tanggal 18 September 1948 malam.

“Dalam keadaan kacau balau demikian ini Residen Kepala Daerah tidak ada di Madiun, Wakil Residen tidak mengambil tindakan apa-apa sedangkan Walikota sedang sakit. Untuk mengatasi keadaan ini maka Front Demokrasi Rakyat, di mana PKI termasuk di dalamnya, mendesak supaya Kawan Supardi, Wakil Walikota Madiun bertindak untuk sementara sebagai penjabat Residen selama Residen Madiun belum kembali.

“Wakil Walikota Supardi berani mengambil tanggung jawab ini. Pengangkatan Kawan Supardi sebagai Residen sementara ternyata juga disetujui oleh pembesar-pembesar militer dan pembesar-pembesar sipil lainnya. Tindakan ini segera dilaporkan ke pemerintah pusat dan dimintakan instruksi dari pemerintah pusat tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya.

“Nah, tindakan inilah, tindakan mengangkat Wakil Walikota menjadi Residen sementara inilah yang dinamakan oleh pemerintah Hatta tindakan ‘merobohkan pemerintah Republik Indonesia’, tindakan ‘mengadakan kudeta’ dan tindakan ‘mendirikan pemerintah Soviet’,” ujar Aidit dari atas mimbar DPR.

*

         “Manakah dari sederet pita-pita jasa di dada Jenderal, mengenai operasi militer dalam Peristiwa Madiun tahun 1948?” tanya Aidit kepada Nasution. Pertanyaan yang mengajarkan pada kita betapa nisbinya sejarah, apalagi jika sejarah itu tak pernah dengan tuntas dijelaskan duduk perkaranya.

Agitasi dan propaganda.

Sejarah yang dibelok-belokkan.

Kebenaran yang didustakan.

Dusta ditimpa lagi dengan dusta yang lain.

Tahun-tahun ketika para penguasa membawa negeri ini ke jurang kehancuran. |

Iklan

2 pemikiran pada “Aidit: Anak-anak Saudara akan Jadi Komunis yang Baik!

    1. Weblog ini tujuannya adalah menelusuri jejak sejarah yg tertimbun atau ditimbun oleh lupa. Anda bisa berkontribusi juga. Untuk Indonesia yg lbh bijak. Terima kasih sdh singgah dan menyapa.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s