Ke Jakarta Dia Tak Kembali

Oleh Hasan Aspahani |

UDARA Amsterdam menekan termometer hingga 17 derajat di bawah nol. Kamar 4 kali 5 meter di Oosterpark 63, 1092 AR itu nyaris tak cukup kuat untuk memberi kehangatan bagi seorang lelaki tua penghuninya.

Kamar itu setengah berada di bawah tanah, bagian paling dasar dari umumnya rumah-rumah di Eropa. Pada masa Perang Dunia II, ruang tersebut digunakan sebagai gudang penyimpanan. Dengan tambahan jendela dan toilet dan wastafel, kamar-kamar seperti itu lalu jadi ruang yang bisa disewakan. Di ruangan seperti itulah lelaki itu tinggal. Ia melukis di sana, membaca, menulis, masak, mandi, tidur. Hari-hari dengan pola pengulangan yang membosankan.

Dan dia sendiri.

Dan dia menyebut dirinya bohemian.

Kamar itu ia sewa 300 gulden sebulan. Sewa yang pantas untuk sebuah ruang di sentrum kota Amsterdam. Cukup untuk mengalunkan irama hidupnya yang lamban: melayahi jalan-jalan kota, menyerap inspirasi, kembali ke kamar dan melukis. Dan membaca…

Ia sebenarnya tercatat sebagai penerima tunjangan sosial dari pemeritah Jerman Barat. Di negara itu, dia juga menyewa sebuah kamar, sekadar agar ia tercatat di sana sebagai syarat menerima tunjangan sosial. Meskipun hanya berstatus pelancong – ia tersenyum, ia selamanya akan menjadi pelancong dalam arti yang sebenarnya – ia lebih betah hidup di Amsterdam, sebab ia telah cukup fasih berbahasa Belanda.

Salah satu sudut jalan Oosterpark, Amsterdam, foto tahun 1992.

Pernah ia ingin memindahkan tunjangan bagi orang dengan suaka politik seperti dia ke Belanda saja, tapi di negara-negara Eropa ada kesepakatan bahwa jika sudah menerima tunjangan sosial dari satu negara maka ia tak bisa meminta atau memindahkan ke negara Eropa lainnya.

Ia hidup dengan uang tunjangan 350 DM. Jumlah itu adalah jumlah yang tersisa 550 DM, lalu dipotong sana-sini, antara lain sewa kamar di Jerman. Kamar di Amsterdam ia sewa dengan uang tabungana hasil penjualan lukisan. Kamar yang mengingatkannya pada dua nama: Siauw Giok Tjhan dan Adam Malik. Nama yang pertama adalah politisi-pejuang pendiri Universitas Res Publika – kini bernama Universitas Trisakti – yang mengirim surat kepada nama yang kedua agar menolong dia. Pertolongan itu datang dalam bentuk 10 ribu gulden sebagai pengganti sebuah lukisannya, enam tahun lalu, dan masih ada cadangan tabungan untuk sewa beberapa tahun lagi.

Nanti jika uang itu habis, dan aku tak bisa mendapatkan uang tambahan, saya toh bisa mundur lagi ke Jerman…

Ia menyimak televisi. Musim dingin, Januari 1987, sedang buruk-buruknya. Di Eropa Timur, suhu mencekik hingga 60 derajat di bawah nol.

Meski tak dapat membuat tubuh tropikanya untuk tidak menggigil, Ia mensyukuri kamarnya yang berpemanas cukup baik. Ia memang eksil, pelancong, bohemian, gelandangan, yang tak akan pernah jadi Eropa. Berapa tahun sudah aku terbuang di negeri ini?

1355373114
Di Balik Kawat Berduri, Basoeki Resobowo, 1978.

Tak ada yang menarik di televisi. Ia mematikannya. Menghidupkan lagi. Mengecilkan suaranya. Dan membiarkannya menyala. Televisi yang mengulang-ulangi lagi siaran tentang musim dingin yang buruk di Eropa. Seramah apapun musim dingin, bagiku akan selalu buruk…

Ia menarik sebuah map dimana ia menyimpan surat-surat. Surat. Via Seamail, Printed Matter. Kantor Pos Geylang Serai. PA Singapore. 17 Oktober 1986. Sebuah paket surat berisi novel Ajib Rosidi: Anak Tanah Air. Novel itu, entah dengan cara yang bagaimana, mengingatkannya pada Anak Semua Bangsa, novel Pramoedya Ananta Toer. Dua novel yang seakan hendak dipertarungkan.

Dua buku itu, yang pertama berorientasi pada nasionalisme, yang kedua merujuk pada internasionalisme. Dua hal yang berlawanan, filsafat materialisme, sosiologi, ideologi, politik kebudayaan, perdebatan, perseturuan, perebutan dominasi wacana, prahara politik yang akhirnya membuat dia terbuang jauh dari tanah airnya. Oh, aku tak akan bisa bebas dari bayang-bayang masa lalu itu.

Buku Ajip yang sampai padanya adalah jawaban atas tantangannya di sebuah tulisan. Ia pernah meresensi Jejak Langkah, novel lain Pramoedya, satu rangkaian dari tetralogi Pulau Buru: Di mana kalian orang-orang Manikebu, setelah sekarang bebas dari halangan-halangan Lekra untuk berkarya, hingga sekarang belum ada saya temui karya-karya kalian yang berarti? Kiriman novel ini adalah jawaban atas tantangannya itu. Ia menghargai karya Ajip itu.

Ia seorang Marxis. Dan tetap sebagai Marxis.

Ia meletakkan kembali Anak Tanah Air, memasukkannya ke amplop, mengambalikannya ke dalam map. Ia lelah. Dentang lonceng gereja menembus udara dingin Amsterdam, 17 derajat di bawah nol.

Ia memejamkan mata.

Merasakan kehangatan pada punggung yang ia sandarkan pada pemanas listrik kecil. Udara kamar 4 kali 5 meter itu tak cukup hangat dengan pemanas ruangan sentral. Ia sempat jatuh tertidur. Lalu terbangun oleh bersinnya sendiri. Siksa musim dingin Eropa bagi tubuh tua tropika.

Ia sekarang benar-benar harus tidur.

 Peta Oosterpark, Amsterdam.
Peta Oosterpark, Amsterdam.

Tempat tidurnya adalah tumpukan 40 sentimeter, dua matras di sudut kamar. Jika ada tamu, matras itu bisa jadi sofa juga. Di kamar itu hanya ada matras itu, dan dua kursi, serta satu bangku untuk melukis. Ia tak punya selimut bulu yang bisa memberi kehangatan lebih. Terhadap siksa musim dingin ini, ia melawan dengan menggandakan selimut tebal, ditambah slapsak, kantong tidur, yang dibentangkan di atas matras itu, yang menjadi semacam sprei yang mengurangi kelembaban matras.

*

Ada suatu hari istrinya, ya istrinya, berkunjung ke Eropa. Itulah pertemuan pertama setelah bertahun-tahun keduanya terpisah oleh samudera dan benua. Ia tentu saja sangat rindu pada istrinya. Ia tentu berharap banyak pada pertemuan itu.

Tapi ia harus kecewa.

Sangat kecewa.

Pertemuan itu hanya membentangkan kekakuan di antara mereka. Ia ingin marah, tapi tak bisa. Lima belas tahun istrinya ia tinggalkan. Bukan. Aku tidak meninggalkan istriku, aku terusir dari negaraku, dari anak dan istriku.

“Anak gadis kita sudah lulus sarjana,” kata istrinya. Ia harusnya bangga dan bahagia dengan kalimat itu. Tapi ia justru sedih, dan hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Semakin bertambah beban sesalnya. Ia berterima kasih dan kagum pada istrinya. Lima belas tahun ia hidup sendiri. Menghidupi diri dan anak-anaknya. Dan kini ia berdiri di hadapannya.

Percakapan menjadi kaku. Terlalu banyak yang ingin dibicarakan. Tapi tiap pilihan kalimat pembuka tak ada yang tak salah.

Ia tak tahu harus mengucapkan apa ketika istrinya dengan sangat sopan mengatakan vonis yang tak pernah harapkan. “Biarlah hubungan antara kita seterusnya hanya sebagai hubungan persaudaraan, dan jangan kembali ke Jakarta. Jangan kembali kepada saya. Itu hanya akan membuat kesukaran dan rintangan bagi kehidupan yang telah saya bangun bersama anak kita,” kata istrinya.

Ia tergagap. Ia terbekap.

Sebelum pertemuan itu, ia memang pernah mengatakan kepada seorang kawan dari tanah air yang mengunjunginya. Ia ingin kembali ke tanah air. Ia ingin pulang. Kabar itu sampai ke istrinya di tanah air. Ia lalu mendengar pesan istrinya lewat kawan-kawan yang lain, juga lewat Soedjojono. Istrinya berharap agar ia tetap saja tinggal di luar negeri. Tak usah kembali. Ia tak percaya pada kabar itu. Ia juga tak percaya ketika istrinya menulis pada surat, nasihat yang ia dengar dari Soedjojono: Kalau kau mau melukis di mana saja bisa, tidak usah dikatakan kalau tidak berada di Indonesia sukar melukis.

Ia tak percaya pada kabar angin. Ia tak percaya pada surat istrinya. Hingga kini ia mendengar sendiri dari mulut istrinya.

“Saya merasa kering di Eropa dengan kerja kreatif saya. Kalau begini terus saya bisa terjerumus kepada hal-hal yang abstrak. Saya ingin konsisten dengan perjuangan politik untuk memelihara semangat dan visi saya,” katanya mencoba menjelaskan alasannya ingin kembali ke tanah air.

Tapi istrinya tak lagi bisa mendengarkan penjelasan apa-apa. Itulah hasil perih pertemuan pertamanya dengan istrinya setelah terpisah 15 tahun, dan itulah pertemuan mereka. Tak ada perceraian resmi, tapi ia bukan lagi suami dari perempuan itu.

Ia terbangun dalam dingin udara yang tak berubah. Berapapun suhu musim dingin sepertinya baginya sama saja. Ia berusaha menembuskan pandangan pada kaca jendela yang diburamkan embun salju. Hanya siluet pohon-pohon yang tampak. Jiwa pelukisnya tersentuh. Ada sesuatu yang memikatnya pada siluet pepohonan itu. Apakah aku harus membuat lukisan dari komposisi fantasi ini. Dan ia teringat, pada suatu masa dalam hidupnya di tahun 1930-an, ia teringat pada Soedjojono…

“Kita adalah manusia Indonesia! Oleh karenanya seni yang kita bikin harus bercorak Indonesia! Untuk mencari corak Indonesia, kita sebagai seniman tidak boleh hidup terpisah dari rakyat, jadi seringlah melukis di luar, membuat banyak-banyak sketsa dari adegan kehidupan dalam masyarakat. Jangan menutup diri di dalam sanggar, dan hanya melukis menurut selera pemesan yang menjadi calon pembeli. Kira harus realistis, di luar sana, di kalangan rakyat itu, di sanalah kenyataan yang sebenarnya. Di sanalah adanya realitet itu.

“Indonesia kita ini sedang dijajah, dicengkeram oleh kebudayaan dekaden, yang bermimpi hidup di dalam surga, sesuatu yang idealistis. Seni kita bukan seni yang beraliran idealisme itu. Justru sebaliknya faham seni kita adalah realisme. Maka kita harus bergerak bersama-sama yang lain, bersama mahasiswa, pemuda, politisi, wartawan, pengarang serta memperhatikan hidup rakyat jelata. Di lingkungan hidup manusia-manusia itulah adanya realisme.

“Di situlah sumber seni yang membawa corak Indonesia,” kata Soedjojono.

Potret Pelukis Basuki Resobowo, M. Hadi, 1956,
Potret Pelukis Basoeki Resobowo, M. Hadi, 1956.

Dan ia sepenuhnya setuju dengan pemikiran itu. Dan ia tak pernah bisa melupakan itu.

Soedjojono adalah anak muda yang memikat. Ia membawa pengaruh baru modernisme di kalangan pelukis dan ke dalam seni lukis Indonesia. Ia melukis dengan gaya ekspresionis. Di luar semua itu ia punya visi yang kuat dan luas tentang seni rupa.

Ia mengingat lagi, wajah keras Soedjojono, sorotan matanya yang memancarkan daya hidup yang militan. Ia yang lebih tua, dan pelukis-pelukis lain, mudah diyakinkan oleh Soedjojono untuk setuju dengan ide-idenya.

Ia pada waktu itu belum tahu bahwa yang dikemukakan oleh Soedjojono adalah Marxisme dalam seni. Ia setuju belaka pada ide untuk mengedepankan realisme, dan sepakat dengan gagasan bahwa seniman tak boleh terpisah dari masyarakatnya.

Pelan-pelan ia menyadari, yang ia jalani sejak saat itu adalah sebuah gerakan politik. Pelan-pelan ia meyakini bahwa seni tak bisa terpisah dari politik. Ia seperti para pelukis lain pada waktu itu rata-rata tak berpendidikan dan pengetahuan luas. Baru mulai mengetahui sedikit teknik melukis. Masih pada taraf tukang gambar. Bisa dimengerti kenapa lekas sekali pengaruh Soedjojono itu diserap, diterima, dijadikan ideologi.

Tahun 1930-an, tumbuh semacam kesadaran untuk mengorganisasi diri. Wartawan, pemuda, politisi, membentuk lembaga-lembaga pemersatu, juga seniman. Soedjojono, Agoes Djaja, dan Abdulsalam mendirikan Persagi, Persatuan Ahli Gambar Indonesia. Soedjojono – anak kuli perkebunan Sumatera asal Jawa itulah yang dulu memikatnya.

Lalu surat istrinya, dan kata-kata langsung istrinya dalam pertemuan singkat mereka menyentak kesadarannya: Soedjojono telah berubah.

Trem makin jarang melintasi jalur-jalur Amsterdam yang juga melintas di jalan depan kamarnya. Malam makin larut. Sesekali ada juga deru mesin mobil yang lewat.

Amsterdam pukul 2 dini hari.

Sunyi.

Dingin.

Ia belum juga bisa tidur. Ia berdiri di tengah kamarnya. Ia pandangi lukisan-lukisannya yang tergantung, berebut tempat di dinding kamarnya itu. Lukisan-lukisan bertema kehidupan sosial. Siluet pohon bergoyang-goyang di jendela kacar kamarnya yang disamarkan oleh embun salju.

Ia teringat pada sajak sahabatnya Chairil Anwar yang ditulis untuknya pada tahun 1947, yang seakan meramalkan nasibnya kelak, apa yang kini ia jalani…

Adakah jauh perjalanan ini?
Cuma selenggang! – coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Pada daun gugur tanya sendiri,
Dan sama lagu melembut jadi melodi!

Apa tinggal jadi tanda mata?
Lihat pada betina tidak lagi menengadah
Atau bayu sayu, bintang menghilang!5

Lagi jalan ini berapa lama?
Boleh seabad… aduh sekerdip saja!
Perjalanan karna apa?
Tanya rumah asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di situ!

Ada yang menggamit?
Ada yang kehilangan?
Ah! Jawab sendiri! – aku terus gelandangan….  |

Catatan:

1. Gambar ilustrasi adalah potongan dari lukisan cat air oleh M. Hadi, 1956, Potret Pelukis Basuki Resobowo.

2. Tulisan ini diolah dari potongan  naskah buku Basuki Resobowo, Bercermin di Muka Kaca, yang disimpan oleh Jassin. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s