Bilang Saja Sjahrir Sedang Sinting

Soetan Sjahrir
Soetan Sjahrir

Oleh Hasan Aspahani |

DI luar komplek barak polisi di Sukabumi di mana Sjahrir dan Hatta dititipkan, masih sebagai orang buangan, ada seseorang sedang mengintai. Ia membaca berita keberadaan dua pemimpin itu di Sukabumi di surat kabar. Ia juga sudah memastikan kabar itu dengan menemui dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang saat itu sudah bebas dan masih tinggal di Sukabumi juga.

Lama ia mengintai dan sudah bisa memperkirakan di barak mana Sjarir dan Hatta ditempatkan. Tapi bagaimana melewati si petugas Belanda yang berjaga itu? Menyelinap dari belakang? Atau menunggu malam hari? Dan kesempatan itu datang ketika hujan mendadak turun lebat sekali tepat pada saat lonceng istirahat dan pergantian petugas jaga berdentang. Pos jaga kosong. Ia berlari bersama-sama para penjaga-penjaga lain yang bergegas menghindari hujan. Lolos!

Namanya Sastra. Sjahrir – yang di matanya sempat dipandang sebagai si anak tanggung – memangilnya Engkos. Itu kalau dia bergerak di Jawa Tengah. Di Jawa Timur, kawan-kawannya mengenalinya sebagai Daud. Orang-orang yang bergerak di bawah tanah sudah lazim dengan taktik itu, mengamankan dan menyelamatkan diri dengan memakai banyak identitas penyamaran, dengan berbagai nama samaran. Sastra memimpin serikat buruh di Garut, kota kelahirannya, dan ditangkap karena dianggap sebagai anggota PKI yang pada tahun 1926 memberontak. Pemberontakan yang mudah ditumpas. Sesungguhnya Sastra memang mengambil komunisme, sebagai ideologi perjuangannya, tapi ia tak pernah menjadi anggota PKI. Ia ditahan di penjara Banceuy, Bandung. Divonis empat tahun dan dikirim mula-mula di Penjara Cipinang, lalu ditahan di Penjara Padang. Dari dalam penjara ia mulai mendengar nama Sutan Sjahrir memulai pergerakan lewat Pemuda Indonesia hingga berpuncak pada Kongres Pemuda Indonesia yang melahirkan Soempah Pemoeda itu, dan Sukarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Sastra bebas pada tahun 1931, ketika PNI sudah dibubarkan oleh Mr. Sartono. Ia kini bukan lagi Sastra yang lama. Di dalam penjara ia mematangkan ilmu perjuangannya. Kegagalan pemberontakan PKI pada tahun 1926 memberinya banyak pelajaran. Dan PKI telah menjadi partai terlarang. Ia menggabungkan diri dengan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Pendidikan – yang sama sekali tak ia harapkan dalam kongres di Yogya yang ia hadiri justru dipimpin oleh si anak tanggung bernama Sutan Sjahrir – bukan Soekemi yang ia jagokan, yang sudah memimpin PNI-Pendidikan Yogyakarta.

Pemilu 1955: Sutan Sjahrir dan kampanye PSI di Bali.
Pemilu 1955: Sutan Sjahrir dan kampanye PSI di Bali.

Sejak saat itu ia menjadi sekondan Sjahrir paling dekat. Persekutuan yang aneh, mengingat beda usia keduanya yang jauh! Juga jarak sosial yang jomplang, Sjahrir adalah bangsawan Minang bergelar Sutan, sementara sastra anak petani biasa di Garut.

“Engkos?” kata Sjahrir terperanjat ketika membuka pintu. Ia mengenali sosok yang kuyup oleh hujan yang berdiri di depan pintu itu. Ia segera menarik Sastra masuk. Lebar sekali senyum dan erat sekali pelukan Sjahrir pada sahabatnya itu.

“Engkos?”

“Betul. Ini Sastra,” katanya.

Ditemui Sastra, Sjahrir seakan-akan langsung langsung terpaut dengan titik-titik perjuangan yang sudah ia rancang. Sastra adalah satu mata rantai dan simpul penting dalam jaringan Sjahrir.

Hari itu, Sjahrir dan Hatta menggelar kasur di lantai. Di situ mereka sama-sama berbaring dan semalaman itu mereka tak tidur. Terlalu banyak yang dibicarakan. Masa-masa pembuangan, dan sejumlah rencanapun disusun.

Sastra meninggalkan Sukabumi – setelah menerobos pagar kawat berduri di belakang kompleks polisi itu – tengah hari keesokan harinya dengan satu keyakinan: Sjahrir tidak berubah! Sastra makin mengaguminya dan mempercayainya sebagai pemimpin pergerakan, yang kali ini menghadapi situasi perjuangan yang berbeda: Belanda yang sudah nyaris kalah, dan Jepang yang sedang di atas angin.

“Kalau ada yang bertanya di mana dan bagaimana keadaan Sjahrir, bilang saja Sjahrir sinting, terganggu jiwanya,” kata Sjahrir.

Apa yang ia pegang adalah kalimat analisa Sjahrir dan menjadi tesis dasar perjuangan bawah tanah mereka, “Engkos, sampaikan pada kawan-kawan, supaya Indonesia tidak dikembalikan menjadi Hindia Belanda, ketika nanti perang berakhir dan sekutu menang, maka kita harus menunjukkan bukti kegiatan yang sifatnya menentang penjajahan oleh bangsa mana pun juga.”

 

*

 

Dan Palembang pun jatuh ke tangan Jepang, dengan sangat cepat, setelah beberapa kota di timur nusantara. Kapan mereka akan menyerang Jawa? Bisa kapan saja. Toh, pada hari-hati itu pesawat tempur Jepang sesekali sudah melintas di atas Batavia, Banten, hingga ke langit Sukabumi.

Mr. Soejitno adik dari dr. Tjipto – seseorang yang sudah dikenal Sjahrir sebagai orang yang berbakat dan cerdas sejak mahasiswa – dan Mr. Amir Sjarifoeddin, – guru di sekolah Perguruan Rakyat, pernah kena larangan mengajar, ditangkap Belanda dan memilih bekerja sama dengan pemerintah kolonial di Departemen Ekomomi daripada dibuang – mengunjungi Hatta dan Sjahrir di barak asrama sekolah polisi di Sukabumi, akhir Februari 1942. Apa yang mereka bicarakan adalah siasat pergerakan, bagaimana memanfaatkan situasi dan menghadapi melemahnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan ancaman serbuan Jepang. Tujuannya cuma satu: Indonesia bebas dari penjajahan.

Amir Sjarifoeddin, di hari-hari akhir kolonialisme Belanda sempat berkomitmen untuk memimpin organisasi perlawan terhadap Jepang yang berkembang menjadi satu pergerakan bawah tanah dengan kekuatan yang besar. Besar jaringannya, besar dananya. Dana itu ditinggalkan oleh Belanda dan diserahkan padanya oleh Gubernur Jawa Timur Charles van der Plas. 25 ribu gulden jumlahnya. Gerakan Amir dibentuk hanya beberapa minggu sebelum Jepang menguasai Jawa. Anggota jaringan bawah tanah ini sebagian besar datang dari kader-kader komunis bawah tanah, orang-orang yang menghimpun diri di dalam partai komunis ilegal. Kepada Sjahrir dan Hatta, Amir Sjarifoeddin tak terlalu terbuka soal ini.

“Di kalangan pemerintah di Jakarta hangat dibicarakan, apakah ada baiknya jika Bung Hatta atau Bung Sjahrir berpidato radio untuk menentang serbuan tentara Jepang ke Hindia Belanda,” kata Amir Sjarifoeddin. Dia sendiri sudah melakukan itu. Ia berpidato menyiarkan propaganda pemerintah Hindia Belanda.

Ah, rencana yang sia-sia. Tapi Sjahrir bisa mengerti kenapa Amir Sjarifoeddin mengusulkan itu. Dengan berada di pemerintahan kolonial, ia telah menjadi penganjur yang kuat melawan poros fasis dan membantu pihak sekutu. Hatta jelas juga anti-fasis tapi ia bukan tokoh yang ramah pada Belanda.

Gagasan ini adalah juga gejala yang menandai betapa rapuhnya sudah kekuatan pemerintah kolonial Hindia Belanda menghadapi ancaman serbuan Jepang. Yang bisa kapan saja dilancarkan.

“Ya, banyak yang berpendapat semacam itu. Tetapi Gubernur Jenderal Tjarda (van Starkenborgh Stachouwer) mengatakan ia tidak punya kekuatan moril untuk memajukan permintaan itu kepada Bung berdua,” tambah Soejitno.

“Saya mengerti keengganan Gubernur Jenderal Tjarda, kami berdua ini masih dalam status interniran, masih tahanan politik. Dialah yang dulu membuang kami. Apa mereka mau membebaskan kami dalam waktu dekat ini? Lagi pula belum tentu kami menerima pekerjaan itu, kan?” kata Hatta.

Sjahrir memilih lebih banyak untuk diam. Ia tahu, ia dan Hatta sesungguhnya sedang dibujuk untuk secara formal bekerja sama dengan pemerintah yang sedang terdesak. Jika mereka bersedia, maka dengan segera akan dibentuk badan dan langkah-langkah melibatkan seluruh pergerakan nasional menghadapi perang. Pidato radio yang tadi disebutkan Amir Sjarifoeddin adalah bagian dari propaganda itu. Bagaimana jika Belanda akhirnya tetap menyerah kepada Jepang? Mereka akan diungsikan ke luar negeri.

Amir Sjarifoeddin membaca keraguan pada sikap Hatta dan terutama penolakan pada Sjahrir. Maka mereka pun mempertimbangkan kemungkinan melakukan hal lain, terlebih dahulu: mereka tetap menolak kerjasama menyatakan mendukung Belanda, lalu mengungsi meneruskan perjuangan diplomasi dari luar negeri.

“Lebih dahulu bisa terbang ke Australia,” kata Amir Sjarifoeddin.

Siasat ini diyakini baik karena kalangan pergerakan memperkirakan Jepang memang akan bisa menduduki Hindia Belanda tapi tidak kemudian tidak akan bisa bertahan lama dan tidak akan menang perang melawan sekutu.

“Kalau Bung berdua berada di luar negeri, maka Bung dapat mempertahankan cita-cita rakyat, yakni Indonesia Merdeka. Dengan mengasingkan diri ke luar negeri ada pemimpin kita yang bebas dari tuduhan sebagai penjahat perang karena membantu Jepang yang kalah, jika mereka kalah dan saya yakin Jepang akan kalah. Tuduhan membantu Jepang itu bisa berakibat buruk. Apabila tidak ada pemimpin rakyat pada konferensi perdamaian, Indonesia nanti akan diwakili oleh Hindia Belanda. Oleh Belanda lagi! Itu yang harus kita hindarkan,” papar Amir Sjarifuddin.

Sjahrir merenungkan usulan itu. Ia menilai sebagai bagian dari taktik perjuangan, pemikiran itu ada benarnya. Mula-mula Hatta setuju, asalkan Sjahrir juga ikut. Sjahrir pun setuju, asal ia tak selamanya di luar negeri karena baginya yang penting adalah ia segera kembali untuk membangun jaringan perjuangan di bawah tanah dan itu tak bisa dilakukan jika ia berada di luar negeri.

Tapi kemudian Sjahrir mempertimbangkan anak-anak angkat yang ia bawa dari Banda, yang tak mungkin ia tinggalkan. Ia berubah pikiran. Setelah menarik dan mengembuskan nafas yang panjang dan berat ia berkata, “Kalau harus ada yang melakukan itu, saya harap jangan saya orangnya. Saya ingin tetap tinggal di sini saja. Saya ingin bergerak di bawah tanah bersama para pemuda revolusioner. Kalau nanti Jepang sudah masuk, pasti tak dapat dihindari bahwa sebagian dari para pemimpin akan dimanfaatkan oleh Jepang. Tapi saya tetap tidak akan bekerja sama dengan mereka. Saya akan tetap bergerak di bawah tanah.”

“Bagaimana, Bung Hatta?”

“Saya bersedia, apalagi jika kepergian saya ke luar negeri itu mengharuskan saya menjadi wakil pergerakan rakyat nanti di konferensi perdamaian. Tapi sanggupkah pergerakan rakyat menyediakan ongkos buat saya berangkat ke luar negeri?”

“Begini, Bung, pemerintah Hindia Belanda sekarang bersedia menyediakan satu kapal terbang untuk membawa Bung berangkat ke luar negeri,” ujar Mr. Amir Sjarifuddin.

Oh, kalau harus bergantung pada Pemerintah Hindia Belanda, aku tidak bersedia,” tolak Hatta. Kini Hatta pun telah 180 derajat berbalik pikiran.

Meskipun demikian, rencana memberangkatkan Bung Hatta ke luar negeri itu dibicarakan lagi oleh Sjahrir dan Hatta bersama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo di rumahnya di Selabintana. Sjahrir dan Hatta mengulang lagi alasan-alasan masing-masing.

“Ya, kami mengerti pendirian dan menghormati pendapat Bung,” kata dr. Tjipto. Dengan demikian rencana itu tak lagi pernah dibicarakan.

 

*

 

Sekembali dari pembuangan di Banda Neira, Hatta, Sjahrir dan dr. Tjipto dijanjikan santunan bulanan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Santunan itu harus mereka ambil sendiri di kantor Asisten Residen di Sukabumi. Sejak pertama menagih janji itu sang Asisten Residen mengatakan bahwa dia tidak tahu berapa besarnya santunan itu. Dia harus menanyakan dulu ke Gubernur Jenderal di Batavia. Sementara waktu, mereka berdua diberi f100.

“Dengan uang f100 ini Tuan-tuan bisa mengatasi kesulitan sementara waktu,” kata Asisten Residen.

“Baiklah, untuk sementara waktu, kami terima ini,” kata Sjahrir.

Dr. Tjipto sendiri tidak lagi menerima santunan, karena sudah tidak berstatus interniran lagi. Nafkahnya sekeluarga sementara dibantu adiknya Mr. Soejitno dan beberapa kawan lama, atas nama solidaritas tinggi.

Pada bulan berikutnya, soal tunjangan ini semakin tidak jelas. Asisten Residen lagi-lagi hanya memberi f100 masing-masing untuk Sjahrir dan Hatta.

“Saya kira ini yang penghabisan yang kita terima dari Pemerintah Hindia Belanda. Kalau begini keadaannya tidak lama lagi mereka akan runtuh,” kata Sjahrir kepada Hatta. Dan mereka terus bersiap untuk menghadapi dan mengantisipasi keruntuhan itu dengan langkah perjuangan terbaik untuk Indonesia Merdeka. |

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s