Chairil, Gayus, dan Gadis Bernama Elsye

Oleh Hasan Aspahani |

TANGAN kurus dengan kulit pucat yang menepuk bahunya itu mengejutkan Gayus Siagian. Tiba-tiba saja Chairil Anwar, si pemilik tangan itu, sudah berdiri di sampingnya.

“Aaa, kebetulan nih!” kata Chairil.

Naskah sajak
Naskah sajak “Cemara Menderai Sampai Jauh”, dengan tulisan tangan Chairil Anwar.

Gayus menutup buku yang sedang ia tilik. Kebetulan? Mungkin tidak. Gayus sedang berada di salah satu toko buku di Kramat Bundar. Chairil Anwar adalah penjelajah toko-toko buku di manapun di Jakarta. Memburu buku, menumpang baca, membelinya jika ia punya uang, atau mencurinya dengan lihai jika ia sedang kere, dan yang terakhir .itulah yang sering ia lakukan.

“Apa yang kebetulan?” tanya Gayus.

“Dari pagi aku belum makan,” kata Chairil, sambil meraba-raba kantong belakang Gayus. Begitulah cara dia menodong atau meminta sekadar uang makan pada kawan-kawannya, “Sampai masuk angin aku…”

Di awal-awal pendudukan Jepang, Chairil mulai kesulitan uang. Pos Sumatera-Jawa putus. Chairil tak lagi dapat kiriman dari ayahnya.

Belum sempat Gayus menjawab atau balik bertanya, Chairil sudah bertanya soal lain. Begitulah dia, pikirannya bergerak sangat cepat, melompat-lompat. Dari soal minta uang untuk makan, ia beralih ke buku yang dipegang oleh Gayus.

“Buku apa itu? Ah biarkan saja itu, ini yang harus kau baca.” Chairil menyodorkan buku Oscar Wilde, The Picture of Dorian Gray. Gayus mengamati buku itu.

“Sudah baca kau?”

Gayus menjawab dengan ragu, “Sudah agak lama, kira-kira dua tahun yang lalu.”

“Ah, perlu kau baca lagi. Aku sudah tiga kali baca buku ini. Eh, sambil ngobrol traktir, dong. Kau diam-diam saja. Aku sudah setengah mati ini…”

Mereka lantas menuju ke sebuah restoran padang, ambil tempat duduk, dan memesan makanan. Chairil lagi-lagi meraba kantong Gayus. Gayus tertawa.

“Apa yang kau cari, Ril? Makanlah kau sekenyangnya. Tadi kan kau bilang mau kan? Nah, makanlah, jangan kau khawatir aku punya uang atau tidak. Nanti aku bayar.”

“Ya. Tapi dengar dulu, Yus. Kau ingat Si Elsye?”

Ah, perempuan! Buku. Perempuan.

“Elsye mana?” Gayus bertanya setengah hati.

“Elsye yang kita ketemu tempo hari di Jatinegara, depan Centraal. Dia sudah mau sama aku. Aku janji bawa dia nonton malam ini. Tolonglah. Jangan bikin aku malu.”

Buku. Perempuan. Dan uang!

Oh, Gayus mengerti kini, apa maksud Chairil tadi meraba-raba saku celananya. Bukan cuma ingin ditraktir makan, tapi juga mau pinjam duit.

“Tolonglah, Yus. Ada adiknya. Kalau kau mau?”

“Kau maksud gadis yang hitam itu?”

Chairil mengangguk lekas. Makanan pesanan mereka datang. Dan Chairil langsung menyantap dengan lahap.

“Waah, Ril. Yang begitu kau kejar-kejar. Pakai uangku pula. Aku jadi sangsikan seleramu, Ril!”

Chairil_Anwar_Pelopor_Angkatan_'45_p_48            “Sudahlah. Kau sudah terlalu sering namakan aku alleseter, tidak apa, Yus. Apapunlah yang kau bilang. Tidak apa. Aku memang babi, makan segala-galanya. Kalau aku tak datang nanti, payah, Yus. Aku punya siasat. Kau lihatlah nanti.”

Gayus sesungguhnya tak pernah kuat menghadapi bujukan Chairil. Kali ini pun dia luluh. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet dan menarik sejumlah yang dari situ. Chairil tersenyum lebar.

“Aku tahu kau tak seperti kawan-kawan kita di Pusat Kebudayaan itu. Benci aku melihat mereka. Jiwa pegawai negeri. Seniman apa itu!”

“Jangan mencela saja, Ril. Kau kan juga pernah kerja di museum di kota, makan gaji juga?”

“Ah, itu kan cuma dua hari saja. Cuma beberapa jam. Itupun hanya siasat aku. Sanusi mau bantu aku. Dia orang baik. Aku tak mau kecewakan dia. Sampai sekarang barangkali dia belum tahu aku sudah keluar. Mungkin dia lupa; dia sering linglung.”

“Maksudku begini, Ril. Kau selalu mencela si anu dan si anu, karena mereka menjadi pegawai. Tetapi kau selalu mengemis pada mereka.”

“Mereka boleh tolak toh?” suara Chairil meninggi. Gayus merasa seperti dibentak. “Kau menyamakan aku dengan pengemis. Kalau pengemis kan mereka boleh tolak. Usir saja!”

Susah memang bicara dengan Chairil Anwar.

Kere tapi sombong.

trem-harmoni
Trem di Jakarta tempo dulu.

Jika ia tak punya uang ia tak segan meminjam kepada kawan-kawannya, yang makin lama makin tak banyak lagi yang percaya. Semakin banyak yang merasa tertipu dan dibohongi. Gayus adalah seorang dari sedikit kawan yang masih mau meminjami dia uang.

Dari usia, Gayus lebih tua dua tahun daripada Chairil. Ia lahir 5 Oktober 1920. Chairil 26 Juli 1922. Yang mendekatkan mereka adalah rasa senasib sebagai perantau di Batavia, sama-sama anak Medan.

“Uang ini akan aku ganti besok, Yus. Aku tidak mau minta uang lagi dari kau!”

Chairil lantas berdiri, berlagak hendak meninggalkan Gayus yang masih menyelesaikan makan. Chairil sudah makan dengan cepat. Sebelum pergi dia masih sempat mengambil rokok Kooa yang baru saja dibuka oleh Gayus. “Ini kubawa. Kau beli saja yang baru…” Chairil lantas berambus. Tiba-tiba saja sudah berada di jalanan dan berteriak pada Gayus sambil mengejar trem, “Ini juga aku ganti besok!”

*

Gayus Siagian baru saja keluar dari kamar mandi, sementara beberapa orang kawan-kawannya sudah ramai di kamar tamu. Ada Chairil Anwar, Cornel Simanjuntak, dan beberapa kawan lain. Kehadiran Chairil sepertinya tak disukai oleh kawan-kawan Gayus yang lain, ya kawan-kawan Chairil juga. Apa sebabnya? Mereka sering kehilangan barang. Orang yang paling mudah untuk dicurigai adalah siapa lagi kalau bukan Chairil. Gayus selalu membela Chairil. Tuduhan itu tak pernah disertai dengan bukti. Kalau memang Chairil mencuri, kata Gayus, dia akan larang Chairil datang ke rumahnya.

Chairil masuk ke kamar Gayus yang sedang berpakaian, dengan pandangan dari kawan-kawannya yang makin tidak suka. Tapi Chairil tak pernah peduli. “Ah, persetan dengan kawan-kawanmu itu! Borjuis-bojuis itu. Hati-hati, Yus, kau bisa rusak bergaul dengan mereka. Aku kecewa sama si Cornel itu. Musiknya saja yang dia urus, tak mau dia membela aku.”

Gayus diam saja, sambil terus merapikan diri.

“Yus, kau masih marah?”

“Ah, kapan aku marah, Ril. Yang marah-marah terus itu kan kau. Apa sekarang kau kemari? Kau mau bayar utang kau? Pernah kau menantang aku untuk menagih utang-utangmu. Nah, sekarang untuk pertama kali dalam hidupku, aku menagih utang-utangmu itu. Coba kau buktikan…”

“Hei, jangan keras-keras, dong. Ini aku bawa oleh-oleh untuk pacarmu dan ini untuk kau sendiri. Masih bagus!”

Chairil memberi sebuah bungkusan. Gayus membukanya. Isinya: kaos kaki dan beha…. “Untuk apa ini , Ril? Dari mana kau dapat ini? Aku tidak perlu beha! Ini kaos kaki juga sudah bolong-bolong begini. Gila kau!”

“Kasihlah sama pacarmu, biar dia gembira. Dan kaos kaki ini kau pakai sendiri. Tidak mahal!”

“Eh, kau tadi bilang oleh-oleh, sekarang kau omong harga! Dan utang kau belum kau bayar.”

Gayus membungkus lagi barang-barang itu. Mengepitkan di bawah ketiak Chairil. “Kau cari saja orang lain yang mau membelinya. Aku tak perlu. Aku bukan tukang tadah. Dan kau bayar dulu utangku sebelum kau pergi.”

“Ah, Yus? Sejak kapan kau belajar menagih utang dari aku? Kau kan tahu aku tidak punya apa-apa? Kalau kau tak mau beli ini tak apalah. Tapi aku perlu uang. Kau boleh menyebutnya pinjam atau beri, ya terserah kaulah. Habis dari siapa lagi aku bisa korek uang? Orang-orang sudah bosan melihat aku. Aku sudah dua hari tidak pulang ke rumah, berkelahi sama Ibu.”

“Dia kemarin ke sini,” kata Gayus. Tapi segera saja ia seperti tampak menyesal. Ibunya meminta agar Gayus tak memberi tahu Chairil soal kedatangannya. Ibunya tahu, Chairil akan semakin marah kalau ibunya menemui dan mengadukan kelakuan anaknya itu kepada kawan-kawannya.

Mata Chairil tampak kini penuh kekesalan. Menyala-nyala. Merah. “Aku tahu dia mengadu padamu. Kainnya hilang dan dia kira aku yang mengambil!”

Chairil lantas berdiri. Mau lekas pergi. Dan kalau sudah begini, luluhlah hati Gayus. “Mau kemana kau, Ril? Tunggulah, kalau kau mau uang, tunggu aku. Kita sama-sama ke Senen…”

Muka Chairil dengan cepat berubah riang. Berseri-seri.

*

Gayus dan Chairil duduk di Milika. Sebuah restoran. Tak jauh dari sebuah toko buku.

“Kita pindah ke sudut saja,” kata Chairil. “Aku tidak suka orang-orang itu mendengar kita omong-omong. Mereka toh tidak mengerti. Ah, coba kau lihat itu? Pegawai negeri… pegawai negeri mau beli buku. Eh, jangan-jangan kau lihat ke sana, nanti dia kemari. Dia baru menghina aku.”

Gayus mencari-cari siapa yang dimaksud Chairil. Seorang seniman pegawai masuk toko buku. Kawan mereka juga. Dia tak melihat kehadiran Gayus dan Chairil.

Sekejap saja, Chairil sudah melupakan kawan seniman pegawai yang katanya menghina dia itu. Ia beralih bicara soal Gayus. Sambil memandangi kawannya itu dia berkata, “Aku suka sama kau Yus. Tetapi kau terlalu banyak mengetahui rahasiaku.”

“Aku juga suka sama kau. Tapi kadang-kadang sebal…. Kau tidak selalu berterus-terang. Tapi kadang kau terlalu berterus-terang, sampai menyakiti hati orang terutama kawan wanita.”

“Peduli apa? Aku tahu juga borjuis-borjuis itu selalu omongi aku kalau aku tidak ada. Biar sajalah. Kau ingat apa yang dikatakan Oscar Wilde? Lebih baik diomongi orang daripada sama sekali tidak diomongi. Itu lebih celaka!’

“Aku tahu kau suka Oscar Wilde. Ada persamaan antara kau dengan dia. Atau kau meniru dia barangkali…”

Mata Chairil membelalak, berdiri, lantas menggebrak meja. “Eh, Yus, aku tak meniru siapa-siapa. Kemarin aku ngobrol sama Cornel. Dia bilang kau juga menuduh aku meniru-niru Lord Byron, Nietze dan Frank Harris. Omong kosong. Dengar ya, Yus, Aku ini Chairil… Chairil Anwar!”

“Duduklah, tak usah kau berdiri dan pukul-pukul meja. Aku hanya teringat pada sajakmu ‘Aku’, di mana kau bilang aku mau hidup seribu tahun lagi. Dorian Gray juga mau hidup terus muda. Hancur dia. Oscar Wilde juga hancur….”

“Sudah, sudah… omonglah terus. Aku pergi saja.”

Sajak ‘Aku’ begitu lekas populer dan membuat Chairil dikagumi. Chairil pertama kali membacakannya langsung di Kantor Pusat Kebudayaan, di hadapan seniman-seniman lain dalam sebuah pertemuan sastra bulanan.

Chairil cepat berdiri dan lari ke jalan sambil melambaikan tangan. Di seberang jalan seorang wanita hitam dan manis turun dari sepeda. Gayus melihat Chairil lekas menyeberang, menemui gadis itu. Chairil memberi isyarat seakan mau bilang, tolong kau bayar kopiku. Elsye juga melambai pada Gayus. Gayus teringat beha yang semalam dibawa oleh Chairil. Gayus menaksir ukuran beha itu cocok untuk Elsye.

Catatan penulis: Cerita ini diolah dari naskah ketikan tulisan Gayus Siagian “Percikan Hidup Chairil Anwar“, yang pada naskah itu disebutkan terbit di Suluh Indonesia, Tahun VII Nomor 467, Rabu, 27 April 1960. Naskah tersebut tersimpan di PDS H.B. Jassin. Gayus menulis untuk mengenang kematian sahabatnya yang meninggal 28 April 1949. Percakapan dikutip seutuh mungkin. Penulis mengubah sudut pandang dari orang pertama menjadi orang ketiga, dan menambah sedikit detail.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s