Habis Ekspres Terbitlah Tempo

Oleh Hasan Aspahani |

CIPUTRA kesal.

Negosiasi yang ia bayangkan lancar, ternyata berlangsung alot.   Ia melampiaskan kekesalannya dengan kalimat yang seperti hendak memojokkan lawan-lawan berundingnya, hendak menekan orang-orang muda yang akan ia beri modal untuk penerbitan sebuah majalah baru. “Saya sering bernegosiasi dengan pengusaha-pengusaha besar, antara lain dari Jepang. Semua berjalan lancar, tidak seperti ini. Memangnya kalian pikir kalian siapa?” ujarnya.

Tapi tekanan itu tak mengubah sikap orang-orang muda itu. Dan Ciputra luluh.

GM2Empat puluh tahun kemudian, di tahun 2011, Harjoko Trisnadi mencatat kalimat Ciputra itu dalam sebuah tulisan dalam buku merayakan 70 tahun usia Goenawan Mohamad. Harjoko, berenam, bersama Goenawan, Fikri Jufri, Christianto Wibisono, Lukman Setiawan, dan Usamah, hari itu di tahun 1970, berunding dengan Ciputra dalam posisinya sebagai Ketua Yayasan Jaya Raya. Pertemuan itu terjadi berkat koneksi baik Lukman pada Ciputra.

Yayasan Jaya Raya berada di bawah Pemerintah DKI Jakarta. Pada waktu itu, pemerintah DKI Jakarta mensponsori majalah Djaja. Harjoko bekerja mengelola majalah itu sebagai wakil pemimpin redaksi. Dengan pertimbangan kemungkinan sulitnya perkembangan usaha media tersebut, Harjoko mengusulkan kepada Gubernur Ali Sadikin agar majalah itu diswastakan saja. Gubernur setuju.

Majalah baru itu namanya Tempo. Para negosiator tadilah motor penggeraknya. Harjoko punya pengalaman di Djaja. Goenawan Mohamad, Christianto Wibisono, Fikri Jufri, dan Lukman Setiawan adalah eks-awak majalah Ekspres, yang baru saja ditutup.

Ciputra sangat menyukai majalah Ekspres. Ia adalah pengusaha properti yang sejak tahun 1960 mengembangkan proyek besarnya yaitu membangun kawasan Ancol. Ciputra adalah properti. Perhatiannya pada masa-masa itu seakan habis tercurah ke bidang itu. Tapi, di tahun 1969, Ekspress mencuri perhatiannya. Ia mulai melirik peluang ini:  bisnis media.

Ekspres menyentak saya. Penampilannya memberi warna baru pada media massa di tanah air. Isi maupun desainnya inovatif,” ujar Ciputra.

Ciputra bisa melihat bahwa Ekspres adalah gabungan Time dan Newsweek. Ia tahu Goenawan Mohamad ada di balik majalah itu. “Saya terlanjur terpesona, dan masih terkesan meski riwayatnya sangat singkat,” kenang Ciputra.

Keterpesonaan itulah yang mempertemukan Ciputra dengan Goenawan dan kawan-kawan. Soal kemampuan jurnalisme, Ciputra tak lagi meragukan wartawan-wartawan idealis yang ia sebut “pasukan tempur” itu. Negosiasi itu ia manfaatkan juga untuk menilai sejauh mana naluri mereka dalam berbisnis.

“Fikri Jufri nalurinya bagus. Walau agak berbelit. Tapi sebenarnya bukan hanya Fikri yang seperti itu. Goenawan sama saja,” kenang Ciputra.

GM3Dari pertemuan pertama itu Ciputra mulai mengenal siapa Goenawan, memahami obsesinya untuk menghasilkan majalah yang nonpartisan, dan ia setuju dengan hal itu. Ia percaya, jika tidak berangkat dari semangat dan idealisme semacam itu, pasti mereka sulit bertahan. Ciputra percaya pada Goenawan, melihat ketegasan ada pada sikapnya, dan kelak ia melihat ketegasan itu mengakar di dalam institusi Tempo.

“Dan itulah GM. Dia pasang badan untuk sebuah obsesi,” ujar Ciputra.

Kealotan perundingan bersumber pada satu hal yang amat mendasar: Ciputra boleh masuk – dan memang itu yang diminta  yaitu  untuk mendanai majalah baru itu – tapi tidak boleh ikut campur dapur redaksi. Apa-apaan itu?  Setahu Ciputra di Indonesia pada waktu itu tidak pernah ada model penawaran dan kesepakatan bisnis media yang seperti itu. Orang tanam modal di media untuk mengembangkan pengaruh, dan memanfaatkan pengaruh itu untuk kepentingan lain, terutama bisnisnya sendiri.

Goenawan dan kawan-kawan tak hendak mengalami pengalaman singkat mereka di Ekspres.

Sealot apapun, toh akhirnya kesepakatan dicapai pada hari itu juga. Ciputra – yang diberi pesan oleh Ali Sadikin untuk ‘mengurus’ wartawan-wartawan muda itu –  lewat Yayasan Jaya Raya yang ia pimpin masuk sebagai pemodal, tanpa sedikitpun boleh campur tangan dalam urusan redaksi yang diserahkan sepenuhnya kepada Goenawan Mohamad dan kawan-kawan.

Yayasan menyetor modal Rp18 juta.  Ciputra tahu itu jumlah modal setor yang jauh dari cukup. Inilah modal awal majalah Tempo.  Dengan modal yang sesungguhnya jauh dari cukup itu Ciputra harus membayangkan pasukan majalah itu benar-benar harus bertempur hebat untuk bisa bertahan.

Sjahrir Wahab dan Fikri Jufri mengurus Surat Izin Terbit (SIT), dan keluar pada 31 Desember 1970. Edisi perdana Tempo terbit pada 6 Maret 1971. Inilah tanggal yang ditetapkan sebagai hari lahir Tempo. Yayasan Jaya Raya mempercayakan Eric Samola SH sebagai Pemimpin Umum. Goenawan Mohamad menjadi Pemimpin Redaksi, dan Harjoko Trisnadi duduk sebagai Pemimpin Perusahaan.

*

Tahun 1963, Fikri Jufri membaca sebuah esai pendek Goenawan Mohamad di majalah Sastra. Tulisan itu, tentang kecenderungan puisi yang menggelisahkan si penulis, judulnya: Seribu Slogan, Satu Puisi.  Nono Anwar Makarim menyukai tulisan itu, dan penasaran sekali dengan penulisnya. Nono lalu meminta Fikri untuk mencari dan menemukan Goenawan. Ia ingin menarik si pemilik nama itu ke dalam lingkaran kelompok diskusinya: Gymnasia. Kelompok ini kerap berdiskusi di kamar tidur, ya kamar tidur Nono, yang tata letaknya memang nyaman untuk keributan itu. Kamar itu terpencil di bagian belakang lantai dua rumah orangtua Nono di dekat Pasar Cikini. Diskusi kerap juga digelar di warung emperan di Pasar Ampiun.

Sepekan pencarian Fikri tak membuahkan hasil.

Hingga pada suatu siang, langkahnya membawanya ke teras asrama putri di Jalan Cik Ditiro, Menteng.  Fikri kerap datang ke sana berkumpul dengan kawan-kawan mahasiswanya – siapa tahu ada mahasiswi penghuni asrama yang terpikat.   Melihat kedatangan Fikri, Ahmad Syamsudin, seorang aktivis dan pengelola asrama itu berbisik kepada seseorang di sampingnya tapi dengan bisikan yang cukup keras sehingga Fikri sendiri bisa mendengarnya. “Hati-hati, ada CGMI!”

CGMI.

Central Gerakan Mahasiswa Indonesia.

Organisasi mahasiswa ekstrauniversiter di bawah naungan kebesaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu paling massif dan galak.

Fikri melihat ada Rendra di teras itu. Dan Goenawan yang akhirnya ia temukan adalah muka baru di sana, dialah yang dibisiki oleh Ahmad Syamsudin tadi. Fikri memancing pembicaraan dengan topik ekonomi: dekonsentrasi alias deregulasi.  Goenawan tak banyak menanggapi.

28_beriragar-goenawan-mohamad-gundala Dari teras asrama putri Purbawisesa Fikri mengajak Goenawan ke rumah Nono. Dan hari itu, Goenawan pun diterima sebagai anggota Gymnasia, bergabung antara lain dengan Slamet Sukirnanto dan Manyaka Thayeb.  Daniel S Lev, sesekali juga bergabung dalam diskusi mereka.

“Saya tidak percaya Fikri ini CGMI,” kata Goenawan.

“Kenapa, Goen?” tanya Fikri.

“Sebab setelah saya dengar Fikri bicara tentang ekomoni, kelihatan sekali pikiran ekonominya liberal,” kata Goenawan.

Fikri makin mengagumi sahabat barunya, yang kelak menjadi sahabat seumur hidupnya. Dia ini mahasiswa Psikologi, pikir Fikri, yang menulis puisi dan esai sastra, yang ternyata juga mengerti ekonomi.

Beberapa hari sebelum G30S PKI, Goenawan berangkat ke Belgia. Ia mendapat beasiswa untuk belajar di sana. Di Universitas Indonesia, dia tak betah dan tak pernah menyelesaikan pendidikan psikologinya.

Nono, Zulharmans, dan beberapa kawan lain mendirikan Harian Kami. Fikri menjadi reporter di Pedoman dan dapat pinjaman sebuah Vespa dari Daan Jahja, eks-Gubernur Militer Jakarta. Vespa yang membuat ia gagah dan bisa bergaya di hadapan kawan-kawannya.  Goenawan kembali dari Belgia dan bergabung dengan Nono CS di Harian Kami.

Pemikiran, diskusi, dan media adalah hal yang menyatukan anak-anak muda ini. Pada tahun 1969 mereka mendirikan Ekspres, majalah berita pertama di Indonesia yang konsepnya memukau seorang pembaca yang bernama Ciputra.

Konsep dan gagasan Ekspres sepertinya mula-mula berkembang dalam kepala Fikri. Atau mungkin sudah lama muncul dalam diskusi mereka. Idenya adalah perlunya sebuah majalah yang membahas isu-isu hangat dengan mendalam tiap pekan, pokoknya seperti Time dan atau Newsweek itulah.

Ide Ekspres terwujud akhirnya lewat jalan pertemanan Fikri. Ia menyampaikan ide itu pada fotografer Marzuki Arifin yang kebetulan berteman dengan Nurman Diah, anak dari B.M. Diah. Maka terbitlah majalah itu dengan Goenawan sebagai Pemimpin Redaksi, Nurman Diah dan Marzuki memimpin bidang usaha, serta awak redaksi Fikri, Christianto Wibisono, Sjahrir Wahab, dan belakangan juga diperkuat oleh Lukman Setiawan, seorang wartawan olahraga yang pindah dari Kompas.

“Usia Goenawan lima tahun lebih muda daripada saya. Sebagai mahasiswa pun dia jauh lebih junior. Tapi saya harus akui bahwa dia punya kemampuan menulis dan pengetahuan yang luar biasa,” kata Fikri. Itulaah sumber kepercayaan Fikri pada Goenawan.

Ketika rapat-rapat pertama Ekspres membahas gaya penulisan seperti apa yang akan mereka pakai, Fikri langsung menyebutkan pakai gaya tulisan Goenawan saja. Dalam perhitungan Fikri, meninjau persaingan bisnis media yang akan mereka terjuni, gaya menulis Goenawan akan banyak disukai. Mudah dicerna, mengalir, dan kadang bisa juga lucu. Ekspres edisi perdana adalah eksperimen jurnalistik yang bersejarah di Indonesia. Eksperimen yang lekas mati! Karena tak berapa lama kemudian Goenawan, Fikri Jufri dan Christianto Wibisono dipecat oleh B.M Diah. Ada perbedaan prinsip yang menganga sejak awal dan tak bisa lekas dijembatani.

Trio Ekspres Dipecat! Suratkabar Kompas menulis berita pemecatan itu di halaman satu!

Tempo Perdana 1971Dipecat dan kemudian menjadi populer, tampaknya membuat Fikri dan Goenawan meyakini ide dan konsep majalah mereka. Fikri menjajakan konsep mereka itu kepada banyak pihak. Antara lain kepada seorang wartawan senior kantor berita Antara. Leila Chudori masih kanak-kanak ketika ayahnya – sang wartawan senior Antara itu – menerima dua orang tamu: Om yang Pendiam alias a bright poet, dan Om yang Berisik atau a brilliant reporter. Dua tamu itu adalah Goenawan dan Fikri. Leila mencuri percakapan di ruang tamu itu: dua tamu ayahnya itu menawarkan konsep majalah yang nanti bernama Tempo. Leila kelak bergabung dengan Tempo dan menganggap dua Om tadi sebagai guru-guru jurnalistik yang ikut membentuk dirinya.

Dengan eksperimen penulisan di Ekspres, cukup meyakinkan Fikri untuk juga mempercayakan Goenawan menjadi Pemimpin Redaksi Tempo. “Semua teman setuju. Dan saya kira pilihan kami tepat. Sukses Tempo yang relatif cepat saya kira banyak ditentukan oleh pillihan ini,” kata Fikri.

*

Goenawan Mohamad itu, di mata Nono Anwar Makarim, dari jaman dulu kerjanya menulis saja, menulis apa saja: sajak, esai, petisi. Bahkan menulis sebuah Manifesto Kebudayaan.  Dia ikut menjadi perumus dan penandatangan termuda pernyataan yang oleh golongan kiri pada waktu itu diolok-olok sebagai Manikebu, sperma kebo, air mani kerbau. Para penandatangan manifes itu menghadapi tekanan, pemecatan dan ancaman.  Menulis memang pekerjaan yang berisiko, dan Goenawan Mohamad menyadari itu, tapi ia tetap menulis dengan keyakinannya. Konsistensi Goenawan dalam menulis itulah yang dikagumi oleh Nono.

Ada sebuah apartemen kecil yang disewa seorang Indonesia di New York, yang malam-malamnya kerap ramai, karena menjadi losmen persinggahan orang-orang Indonesia yang sedang berkunjung ke sana. Suatu malam, di tengah bising televisi 24 jam di ruang tamunya yang kecil, beberapa orang terlibat dalam diskusi seru. Goenawan, di tengah keseruan diskusi itu, pamit menyingkir ke pojok dengan laptop on. Satu jam kemudian, ia kembali ke reriungan diskusi setelah mengemailkan Catatan Pinggir ke redaksi Tempo di Jakarta.

“…..menulis bagaikan oksigen buat paru-parunya,” ujar Nono. |

| Catatan: Tulisan ini sepenuhnya menggunakan bahan dari buku Goenawan Mohamad Enak Dibaca dan Perlu (R&W Publishing, Jakarta, 2011). Buku tersebut dicetak sangat terbatas sebagai hadiah bagi ulang tahun Goenawan yang ke-70. Buku ini berisi tulisan beberapa tokoh, sahabat dekat, tentang Goenawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s