Marhaenisme, Marxisme a la Sukarno

Oleh Hasan Aspahani

Sukarno memperkenalkan ideologi Marhaenisme, nama yang diambil dari seorang petani miskin yang ia temui di sebuah desa. Ada yang menganalisa itu singkatan dari nama trio tokoh komunisme: Marx-Hegel-Engels.

Tahun 1930, Sukarno ditangkap Belanda karena orasi-orasi dan tulisan-tulisannya yang menghantam imperialisme dan kolonialisme. Dia dihukum dua tahun penjara. Dalam hal berjuang lewat penyadaran rakyat, Sukarno memang tak mengenal rasa takut. Penjara dan pengasingan tak akan menghentikannya.

“Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama,” ujar Sukarno.

Selama dalam proses diadili, dan ditahan di penjara itulah dia mulai merumuskan konsepsi ideologi kerakyatannya, yang ia beri nama Marhaenisme. Idenya sudah tumbuh lama dalam pikirannya.

Marhaenisme sebuah idelogi yang dekat dengan Komunis-Marxis. Nama Marhaen, kaum Marhaenis, diperkenalkan Sukarno untuk mengganti sebutan proletar.

Dari mana istilah dan ide idelogi itu berasal? Menurut penuturan Sukarno sendiri dalam otobiografinya “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (Penerbit Gunung Agung, 1966) gagasan itu terpercik dari percakapannya dengan seorang petani kecil di selatan Kota Bandung. Namanya Cigalereng. Suatu daerah pertanian yang padat. Di situ ia melihat seorang petani mengerjakan sawah milik sendiri. Luasnya kira-kira sepertiga hektar saja.

“Ia bekerja sendiri. Pakaiannya lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang rakyatku,” kenang Sukarno.

Dalam diam, Sukarno terus memperhatikan petani kecil yang sedang bekerja itu, sebelum ia menghampirinya. Lalu keduanya terlibat dalam percakapan yang akrab dalam Bahasa Sunda.

“Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan ini?”

“Saya, Juragan.”

Sukarno bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama orang lain?”

“O, tidak, Gan. Saya sendiri yang punya.”

“Tanah ini kau beli?”

“Tidak. Warisan bapak kepada saya, turun-temurun.”

Sukarno meresapkan percakapan yang menguatkan apa yang sudah menjadi konsep sebuah ideologi dalam pikirannya. Dari petani itu ia terus menggali fakta dan gagasan.

“Sekop kecil ini, apakah kepunyaanmu juga?”

“Ya, Gan.”

“Dan cangkul ini?”

Ya, Gan.”

“Bajak?”

“Saya punya, Gan!”

“Untuk siapa yang kau kerjakan?”

“Untuk saya, Gan.”

“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”

Si petani kecil mengangkat bahu. Jawabannya kemudian pertanyaan yang menuntut permakluman. “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang isteri dan emoat orang anak?”

“Apakah ada yang dijual dari hasilmu?”

“Hasilnya sekadar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”

“Kau mempekerjakan orang lain?”

“Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya!”

“Apakah engkau pernah memburuh?”

“Tidak, Gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”

Sukarno lalu menujuk ke gubuk kecil tak jauh dari sawah itu. “Itu rumahmu?”

“Itu gubuk saya, Gan. Hanya gubuk kecil saja. Tapi kepunyaan saya sendiri.”

“Jadi kalau begitu, semua ini engkau punya?”

“Ya. Gan!”

Petani itu bernama Marhaen. Nama petani itu, percakapan itu, kemudian menjadi ide besar dalam pikiran Sukarno. Sesudah percakapan itu Sukarno dengan penuh semangat mendayung sepedanya, berkeliling, sambil terus merumuskan

Sukarno kemudian menyebut semua rakyat Indonesia dengan nasib malang seperti petani itu dengan Rakyat Marhaen.

Marhaen adalah korban. Petani-petani kecil yang mengusahakan bidang tanah yang sangat kecil sekali adalah korban sistem feodalisme. Petani yang mula-mula diperas oleh bangsawan yang mula-mula terus-menerus proses itu sampai ke anak dan cucunya berabad-abad. Rakyat kecil yang bukan petani pun menjadi korban imperialisme perdangan Belanda.

“Rakyat yang menjadi korban ini, yang meliputi hamper seluruh penduduk Indonesia adalah Marhaen!” ujar Sukarno.

Sukarno adalah idelog terbesar yang lahir di Indonesia. Marhaenisme adalah rumusan jenius. Marhaenisme baginya adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional Indonesia. Ia menemukan momentum yang tepat untuk memperkenalkan nama dan konsep ini, yaitu ketika ia membacakan pledoinya “Indonesia Menggugat!” pada tahun 1930 itu.

Memperkenalkan kata kaum Marhaen untuk menggantikan proletar adalah cara cerdas Sukarno untuk menyatukan seluruh orang kecil dalam satu perasaan senasib, bukan hanya buruh (yang diwakili oleh proletar), tapi juga petani kecil pemilik lahan sempit, nelayan miskin yang tak bekerja pada tauke besar, tukang gerobak, insyur, dan pegawai kecil.

“Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat-alat yang sedikit; orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekadar cukup untuk dirinya sendiri,” kata Sukarno.

Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, kata Sukarno, yang sudah dimelaratkan, bekerja untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga seorang oleh orang lain.

“Marhaen adalah satu kata pemersatu. Aku ingin mempersatukan semua kamu melarat di Indonesia ini, bukan hanya kaum buruh saja,” kata Sukarno.

Maka menurut Marhaenisme, bangsa Indonesia akan mencapai kesejahteraan dan menjadi bangsa yang kuat jika rakyat kecil diberdayakan. Agar mandiri secara ekonomi dan terbebas dari ekploitasi pihak lain, tiap orang atau rumah tangga memerlukan factor produksi atau modal. Wujudnya bisa berupa tanah, mesin, atau alat produksi.

Tak ada ideologi benar-benar mati. Pasca-kejatuhan Sukarno, gagasan-gagasannya bahkan jasa dan nama besarnya terus-menerus dikerdilkan. Termasuk marhaenisme. Kol (Inf.) Soegiarso Soerojo, perwira intelijen di masa Orde Baru meragukan kisah percakapan Sukarno dan petani kecil itu. Dalam bukunya yang kontroversial “Siapa Menuai Angin, Akan Menuai Badai – G30S PKI dan Peranana Bung Karno (Intermassa, 1988), ia menduga nama itu justru singkatan dari Marx-Hegel-Engels, trio pemikir komunisme. Kemiripan nama Marhaen dan singkatan itu mungkin hanya kebetulan saja mirip. Tapi, teori ini bisa kita lihat sebagai upaya penguasa waktu itu untuk juga menguburkan ideologi Marhaenisme bersama komunisme yang ditetapkan sebagai bahaya laten, trauma sejarah yang terus mengancam atau pada masa itu dianggap sebagai ancaman.

Memang, ada suatu kali, Sukarno sendiri menyebut Marhaenisme adalah Marxisme dengan kultur dan natur Indonesia, tapi jelas itu bukan Marxisme, bukan komunisme. “Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktek,” tegas Sukarno. |

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s